Showing posts with label what happens in my mind. Show all posts
Showing posts with label what happens in my mind. Show all posts
Saya nggak suka dibilang mainstream. Kenapa ya?

....bersambung

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebenarnya saya pengen ngelanjutin cerita minggu lalu, yang saya pergi ke Nglanggeran. Tapi karena foto-foto nya nggak ada di saya, jadi saya tunda dulu ya.
Salam!
Peace, love, and be yourself!
Rae! Rae, look at me.
Whatever situation you find yourself in, there is always, always, always a way out.
(Kester)

 
Saya baru saja nonton serial tv tentang remaja yang baru saja keluar dari rumah sakit mental. Lumayan bagus. Lucu, ironis, dan penuh dengan drama. Agak-agak berbau psychology, tapi nggak tahu ya kalau menurut orang lain, menurut saya setiap drama itu berbau psikologi. Hahaha

Akhir-akhir ini saya bertanya pada diri saya. Apa mau saya? Buat apa saya belajar psikologi? Apakah saya masih ingin jadi psikolog? Apa saya punya bakat untuk jadi psikolog?

Rasanya...saya pengen booking beberapa sesi ke psikolog. Yang beneran, bukan yang lagi garap tugas S2. Yang rasanya, karena saya bayar dan saya adalah pasiennya, dia nggak akan angkat tangan saat menghadapai saya. Saya penasaran apa yang akan saya dengar dari psikolog tersebut. Saya juga penasaran, apa yang akan saya ceritakan kepadanya.

Mungkin lain kali, kalau saya punya uang.

Mungkin lain kali, kalau saya merasa benar-benar membutuhkan.

Mungkin lain kali, kalau saya lagi pengen iseng dan nggak ada yang menghalangi saya untuk melakukan apa yang saya inginkan.
     "Halo.."

      Kamu mendongak dari kertas putih yang sedang kamu gambari. Alismu menaik sesaat saat melihatku masuk dan duduk di depanmu.

       Aku melongok, melihat apa yang sedang kamu gambar. Tapi kamu segera menutupinya. Saat aku sedang membuka bibir untuk memprotes, kamu menjulurkan lidah. Bercanda. Aku tertawa. Kamu tertawa.

      "Hey," katamu setelah berhenti mengerjaiku, "Kamu tahu, untuk sekarang masalahmu hanya satu."

     Aku menghela nafas. Walau begitu, aku masih tersenyum. Aku paham betul maksudmu.

     "Selesaikan ya," katamu sambil mengedipkan sebelah mata.

      Dadaku berdebar-debar, mulai gelisah. Tapi masih kurasakan sudut bibirku membentuk sesimpul senyuman. Aku mengangguk-angguk. Aku kembali merasakan beban itu kembali sekaligus getaran semangat untuk menyelesaikannya.

      "Okay. Let's do this!"

Cuma Satu : Semangat

by on June 30, 2014
     "Halo.."       Kamu mendongak dari kertas putih yang sedang kamu gambari. Alismu menaik sesaat saat melihatku masuk dan...
It's funny when my dream makes my mood better when I wake up the morning after. It's just a dream, literally a dream. It can't  happen. It's not real. I should not believing it.

But it felt real.

But it makes me smile.

It makes me wonder. How if someday those dreams come true? Maybe not exactly the same, but maybe the situation will occur in the real life timeline someday.

It makes me wonder. What will I do then?

It's funny when my dream makes my mood better when I wake up the morning after. It's just a dream, literally a dream. It can't  happen. It's not real. I should not believing it.



I guess I just had a beautiful dream.

Dreamy Dreams

by on June 29, 2014
It's funny when my dream makes my mood better when I wake up the morning after. It's just a dream, literally a dream. It can't ...
           “Kenapa aku selalu minum coklat?”

          Kamu mendongak dari cangkirmu, menatapku bingung.

          “Maksudku, aku juga suka minum teh, sepertimu. Tapi kenapa setiap kita bertemu, aku selalu yang minum coklat?”, kataku lagi.

          “Kenapa pertanyaanmu selalu konyol?”, balasmu dengan mimik tidak percaya.

          Aku mengangkat bahu, tanda bahwa aku tidak tahu dan aku tidak peduli.

          “Mungkin,” lanjutmu mulai serius, “karena kamu selalu datang kepadaku ketika kamu sedang tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas. Pikiranmu sedang tidak jernih, pikiranmu sedang sepekat coklat yang sedang kamu minum.”

          Aku memiringkan kepalaku, mendengarkanmu dengan seksama.

           “Karena itu pula, kamu mencariku. Kamu mencari teh. Kamu mencari antioksidan. Kamu mencari sesuatu yang bisa menjernihkan isi kepalamu. So, here you are, talking to me."

          Kita saling menatap. Aku menganguk-angguk.

           “Does it make sense?”

           “It does for me,” jawabku, kembali menyesap isi mug  yang masih panas.

Some Conversation

by on June 27, 2014
           “Kenapa aku selalu minum coklat?”           Kamu mendongak dari cangkirmu, menatapku bingung.           “Maksudku, aku ju...