This post may contain spoilers, tapi sebenarnya enggak juga sih. Jadi yang belum tahu ceritanya/nonton GoT episode 8 season 4, “The Mountain and The Viper” jangan mencaci-maki saya setelah baca. Hehehe
 
Karena saya nggak dapet wangsit genius hari ini, maka saya nulis dikit aja ah.

Lupakan kepenatan dengan kegiatan rutinmu yang dimulai di hari Senin, karena di hari Senin kita nonton Game of Thrones (GoT)!  

Yaaay~!

Sebenarnya tadi pagi saya sudah berencana untuk segera download dan nonton episode terbarunya. Tapi ternyata saya malah lupa dan baru ingat setelah chatting sama temen tadi sore hahaha. Padahal episode ini sudah saya tunggu-tunggu dari dua minggu lalu. Series ini memang series mingguan, tapi karena hari Senin minggu lalu di Amrik sono lagi libur merayakan Memorial Day, jadi series ini ikutan libur.

Game Of Thrones ini merupakan tv series berdasarkan seri novel karangan George R. R. Martin yang judulnya A Song of Ice and Fire. Tv series nya disiarkan di HBO. Untuk lengkapnya klik aja di sini ya. Maaf banget tidak saya review lebih lanjut hehe. Penasaran? Saya punya series lengkapnya kalau mau ngopi hihihi

Berhubung saya nggak baca novelnya, otomatis saya nggak tau ceritanya gimana sebelum nonton. Novel nya belum ada yang nerjemahin ke bahasa Indonesia, saya agak males baca novel yang bahasa Inggris-nya kayak jaman medieval gini. Nonton seriesnya aja bisa buka kamus atau googling idiom hahaha. Nggak apa sebenarnya, sambil belajar :D

Oke. Saya mau nonton dulu ya. Saya sengaja nunggu malam sekalian biar nontonnya semakin syahdu. Saya sudah berhati-hati untuk tidak kena spoiler, tapi apa daya yang baca novelnya juga banyak. Saya pun kadang biar nggak terlalu shock, dulu waktu awal nonton saya searching tentang seorang tokoh yang mati, nah saya cari tahu dia mati di episode berapa biar hati saya siap dan nggak terpukul :'

Untuk episode ini tanpa sengaja saya kena spoiler. Walau sudah tahu siapa yang mati berikutnya dan kata temen habis nonton ini dia sakit hati, nggak apa deh. Pasti masih seru.

Oke. Semoga hati saya nggak sakit-sakit amat.

Episode 8, bring it on!




*52 menit 20 detik kemudian...*

Okay. Saya sedih. Hati saya sakit. Saya resmi pengen nangis. Nggak tega melihat adegan yang begitu gore-nya, darahnya yang menggenang, kepalanya yang....hwaaaaaaaaaa kenapa dirimu harus berakhir seperti itu, wahai Om-Paling-Ganteng-Seksi-dan-Eksotis-di-GoT?? :((((

Kira-kira ekspresi saya di ending begini nih.



Haahh.

Aku kudu fangirling sopo saiki?

Wah, saya masih terkejut. Bagi yang nggak bisa lihat darah-darahan, saya sarankan tutup mata atau nggak usah liat ending series ini sama sekali ya.

Jempol tujuh deh, buat orang-orang yang bikin visual effect nya. Kelihatan nyata banget. Apik. Tepuk tangan dulu!



Nggak sabar, minggu depan ceritanya gimana ya? Nonton GoT tuh kayak stalking gebetan. Udah tahu bakalan nyesek, tapi tetep aja penasaran.


Kamu pernah, tiba-tiba rasanya ingin berbuat sesuatu yang gila? Seperti di suatu siang, kamu sedang bersenda gurau dengan teman-temanmu dan tiba-tiba kamu ingin mencium salah satu dari mereka? Tidak ada perasaan apapun sebelumnya. Hanya saja, tiba-tiba ketika kalian sedang megobrol, seorang temanmu tanpa sengaja mendekatkan wajahnya ke wajahmu dan seperti petir di siang bolong, di kepalamu terlintas pikiran, “Kayaknya kalau aku cium pipinya bakal seru deh,”.

Ugh. Kameranya lagi nggak tahu ke mana. Pardon my bad doodle.


Kamu nggak tahu apa yang merasukimu waktu itu. Kamu juga sedang tidak jatuh cinta kepada orang tersebut. Kamu memang nyaman berada di dekatnya, tentu, tapi hanya sebatas teman bicara dan teman berbagi tawa. Kamu sama sekali tidak melihat tanda-tanda bahwa kamu ingin menjadi kekasihnya.

Lalu, apa yang membuatmu berpikir seperti itu?

***

Aku punya teori. Aku rasa yang sedang kamu alami adalah tantangan untuk meninggalkan zona nyamanmu menuju zona yang kamu bahkan tidak tahu ada. Resiko mencium pipinya seolah-olah mengundangmu untuk melakukannya. Apa yang kira-kira akan terjadi setelah kamu menciumnya?

Skenario A
                Mukamu memerah. Dia tersentak kaget. Teman-temanmu pun ikut terkejut. Dia melihatmu seolah-olah kamu punya seribu bola mata di dahimu. Seolah kamu gila. Lalu kamu ingin berlari keluar, berteriak, dan memukuli kepalamu sendiri, membuktikan kepada dunia bahwa pikirannya benar. Kamu gila. Lalu kamu tidak pernah mendengar apa pun dari dia lagi.

Skenario B
                Mukamu memerah. Tak disangka, mukanya juga memerah. Teman-teman mu terdiam. Kalian berpandangan grogi. Secara bersamaan kalian membuang tatapan. Lalu kalian pun pulang. Selanjutnya, dia tidak pernah menghubungimu lagi atau membicarakan hal itu dengan mu. Lalu teman-temanmu mulai bergosip di belakangmu, menertawaimu, tidak mempercayai apa yang kamu lakukan, dan menebak apa yang terjadi diantara kalian berdua yang kamu sendiri tidak mengerti.

Skenario C
                Mukamu datar. Walaupun baru saja kamu melakukan hal yang paling gila di hidupmu, kamu tidak merasakan apa-apa. Dia hanya melihatmu sekilas, namun tidak mengatakan apa-apa. Teman- temanmu ternyata tidak ada yang sadar. Lalu semuanya kembali seperti biasa. Seperti apa yang kamu perdebatkan di kepalamu itu tidak berarti apa-apa.


Masih ada skenario D, E, F, G dan seterusnya yang kamu sendiri tidak bisa menyangka apa yang akan terjadi. Salah satu dari kemungkinan skenario adalah kalian berdua tertawa, menyadari kalau saling jatuh cinta, dan bahagia selamanya. Bisa saja, di skenario lain, kalian berdua tertawa tapi hanya kamu yang jatuh cinta. Kamu nggak pernah tahu.

Kamu nggak akan pernah tahu apa yang terjadi sebelum kamu melakukannya. Kamu cuma bisa mereka-reka hal yang tidak akan terjadi, karena kamu terlalu sibuk memperkirakan semuanya sehingga kamu nggak sempat melakukannya.
Lalu kamu pun tidak melakukannya. Kamu hanya menganggap itu sebagai ‘kilat gila’ dan seperti pikiran-pikiran gilamu yang lain, kemu kembali menenggelamkannya dalam-dalam. Berharap kamu tidak akan merasakannya lagi, karena kamu tahu, kamu hanya merasakannya satu kali.

Momen tersebut pun terlewat. Kamu kembali ke zona yang telah kamu kuasai selama ini. Kamu merasa biasa-biasa saja di zona nyamanmu yang biasa-biasa saja.

Tapi ternyata, walau tenggelam beratus-ratus kilometer di bawah laut hati mu sana, kamu masih tahu bahwa itu ada.

Lalu kamu terhantui.

Lalu kejadian itu terbawa mimpi.

Lalu kamu terbangun dengan perasaan yang sama ketika ‘kilat gila’ tersebut menyambarmu.


Nah, apa yang akan kamu lakukan sekarang?

Menuliskannya di blog pribadimu?

Kilat Gila

by on June 01, 2014
Kamu pernah, tiba-tiba rasanya ingin berbuat sesuatu yang gila? Seperti di suatu siang, kamu sedang bersenda gurau dengan teman-temanmu da...
Hashtag untuk kegiatan menulis selama 35 hari ini masih didiskusikan oleh teman-teman Padakacarma saat saya mulai menulis post ini. Yang bener gimana sih? Apakah 'selapanan' udah fix hanya menjadi istilah kenduri untuk bayi berumur 35 hari saja? Atau nggak apa kalau kita pakai istilah itu terus nambahin kata 'nulis' biar nggak salah paham? Atau boleh-boleh aja memakai istilah tersebut tapi setelah selesai, kami harus kendurian dan memotong rambut kami masing-masing? Jadi penasaran, ini selesainya pas neton-nya siapa ya. Hihihi

Sekarang, saya nggak mau nulis tentang selapanan. Saya mau nulis tentang perayaan paling nge-hitz yang dilakukan oleh orang-orang seumuran saya, yaitu nikahan. Eh, nggak juga ding. Lebih tepatnya, kondangan.


***

Kebetulan, hari ini saya diajak kondangan oleh kakak saya. Karena saya lagi pengen makan enak, dandan cantik, dan melihat-lihat dekorasi dan properti resepsi, maka saya pun dengan semangat mbonceng kakak saya ke lokasi resepsi. Mempelai pria nya adalah teman SD kakak saya. Acara hari ini merupakan ngunduh mantu, yang tentu saja, dilaksanakan oleh pihak mempelai pria.

Saya senang datang ke kondangan. Kalau ayah saya dapet undangan dan saya diajak, saya sering ikut datang. Setiap kondangan yang saya punya niat yang berbeda. Niat saya :
1) Nggak peduli siapa yang nikah, yang penting lokasinya.
2) Nggak peduli lokasinya di mana (asal terjangkau), yang penting siapa yang nikah.

Yang nomor satu itu lebih sering saya alami karena teman-teman saya yang nikah sebenarnya masih sedikit sih, jadi niat nomor dua masih bisa saya hitung dengan jari tangan kanan. Yang bilang "Udah banyak yang nikah ya," itu nggak sadar kalau satu angkatan ada 200 orang dan nggak ada 10% yang udah nikah :p

Kenapa saya mementingkan lokasi? Karena biasanya saya penasaran sama dekorasi resepsinya. Di gedung yang nggak terlalu luas, ya mungkin gitu-gitu saja. Di gedung yang terkenal luas, kadang dekorasinya bisa lebih kreatif. Nah, kalau nggak di gedung? Wah, ini...



It was so lovely!

Cuacanya sedang bersahabat, walau panas tapi ada beberapa kipas angin pendingin (yang kalau muter juga nyemburin titik-titik air itu) yang tersebar di beberapa titik lokasi. Dekorasi lumayan, tidak terlalu istimewa dengan resepsi yang sering dijumpai di gedung. Tapi ini unyu banget karena ada beberapa ayunan dan kandang burung yang ikut didekorasi.

Selama kakak saya reunian dengan teman-teman SD nya, saya duduk di salah satu kursi yang tersedia. Kursi yang saya pilih ada di bawah pohon rindang, yang kata kakak saya kemungkinan pohon kelengkeng (tapi nggak yakin deh haha). Saya pun menikmati sajian sambil melihat-lihat suasana resepsi. Saat sudah mau pulang, saya pinjam hape kakak saya dan saya...foto-foto. Hehehe. Bukan foto narsis seperti biasanya saja, tapi saya foto lokasinya juga. Kakak saya sempet ngatain kalau saya kayak turis di tempat wisata aja. Hehehe. Habiiiis, nggak tahan sih liat tempat yang bagus gini :D

Dari semuanya, yang bikin saya jatuh cinta adalah pohon nya.


Majestic! Bikin gemes! Mau dooong resepsi di sana! >.<

Ngomong-ngomong, untuk yang tahu itu pohon apa, harap kasih tahu saya. Hehe.

Walau kaki dan punggung tangan kerasa gosong, tapi tadi saya happy sekali. Melihat hijau-hijauan yang asli dan orang-orang dengan anggunnya menghabiskan waktu di kebun ini, rasanya optimis bahwa manusia dan alam bisa kok berbaikan lagi. Hehehe   

Selamat menikah, Mbak Yurike dan Mas Chiro! Have a great adventure as a one new family! Semoga bahagia selalu!




Sejak ikut les renang pas jaman SD dulu, saya jadi suka olah raga yang satu ini. Banyak gerak tapi nggak kepanasan lha wong geraknya di air. Sehabis berenang pun badan langsung seger. Segernya dobel, dari olah raga dan dari berendam di kolam.

Dulu pas les renang di Tirta Sari, saya gabung dengan klub yang namanya Dolphin. Masih inget banget, kartu tanda les nya warnanya ijo daun dan ada gambar lumba-lumba di sampulnya. Lupa kenapa tiba-tiba saya bisa les renang gitu, kayaknya sih ikut-ikutan temen komplek. Mungkin karena pas dia les renang terus saya kesepian nggak ada temen mainnya sore-sore, jadi minta di les-in berenang juga. Waktu itu saya masih kelas 3-4 SD.

SD les berenang, SMP nggak pernah berenang, terus SMA kadang-kadang berenang sama kakak. Setelah bertahun-tahun kuliah dan belum lulus juga, sekarang saya bertekad untuk rutin berenang. Kangen sih, dasarnya suka berenang. Sekalian mau ngesehatin badan yang nggak pernah olah raga ini.

Masalahnya cewek-cewek berjilbab macam saya, kalau berenang harus di kolam renang khusus cewek. Mungkin ada sih, yang nyaman-nyaman aja pake baju renang serba tertutup di kolam renang umum, tapi saya sih kurang nyaman. Berhubung dengan pakaian renang saya yang masih seksi terbuka dan saya masih suka sama baju renang ini, saya belum punya niat untuk beli baju renang muslimah. Mulailah pencarian kolam renang di Jogja yang ada jadwal khusus ceweknya.


Salsabiela


Pas SMA saya kadang-kadang ke sini sama kakak perempuan saya. Tempatnya jadi satu sama SD Budi Mulia di dekat UPN sana. Maaf, nggak hapal alamat lengkapnya hehe. Ancer-ancernya, perempatan UPN ke selatan, ikutin jalan, nanti di kiri jalan ada SD Budi Mulia. Masuk aja, parkir di tempat parkir dengan rapi, terus masuk ke gedung paling timur. Ada tulisannya kok.

Ini jadwal jam khusus cewek seinget saya, di sana ada jadwalnya kok kalau mau survey dulu. Tanya aja sama yang jaga loket, nanti biasanya dikasih kertas jadwal.
Senin    14.30 - 20.00 WIB
Rabu     15.00 - 20.00 WIB
Kamis   16.00 - 20.00 WIB
Jumat    11.00 - 16.00 WIB

Alas kaki harus dilepas. Jadi di dalem beneran bersih.
Ada rak buat sandal/sepatu.

Enaknya di Salsabila itu murah. Tiket masuk buat umum Rp 12.000,-, mahasiswa Rp 8.000,-  dan anak-anak Rp 6.000,-. Tempatnya bersih, saya suka saya suka! :D
Kalau pas jam khusus cewek bisa pake tempat bilas cowok, jadi banyak deh tempat bilasnya.

Air nya juga lumayan. Lumayan bikin mata perih. Nggak ding, ya untung-untungan aja sih, habis dikuras atau enggak, soalnya dikurasnya setiap lima hari sekali. Tapi tetep terasa bersih kok, kolam renang mana sih yang nggak pake antiseptik. Jadi untuk lebih aman, jangan lupa pake kacamata berenang ya. Kalau nggak punya, di sini bisa nyewa kacamata berenang dengan harga Rp 3.000,-. Bisa nyewa baju renang juga, soalnya di sini nggak boleh berenang selain pake baju renang ya. Kalau nekat, nanti didatengin mbak-mbak yang jaga. Hehehe


Kenapa sih, nggak boleh berenang pake kaos biasa?

Setelah saya googling dan baca beberapa artikel, baju dari bahan katun bisa menyerap zat kaporit yang biasa digunakan di kolam renang sebagai antiseptik. Kaporit yang terserap baju katun bisa menggerus permukaan kulit kita dan bikin kulit jadi kasar dan kering. Selain itu, serat-serat katun bisa menyumbat filter dan pompa kolam renang. Kalau sering tersumbat, perawatan kolam renang bisa lebih ribet, menghabiskan lebih banyak waktu, tenaga, dan biaya. Nah, bahan baju renang biasanya kan lycra atau spandex, bahan tersebut nggak menyerap kaporit dan seratnya nggak mudah terurai. Selain itu, bahan ini bisa melindungi kulit dari sinar UV lho :D

*maafkan kalau ada info yang salah, soalnya cuma baca artikel populer, bukan ilmiah*

Naaah, jadi buat kalian yang bandel tetep pake kaos katun buat berenang, pertimbangkan juga akibatnya buat kulit kamu dan pihak manajemen kolam renang ya. Kasihan lho, kita udah nikmatin servis nya tapi kita nggak ngikutin peraturannya.  



Yak. Kembali ke Salsabila.

Nggak enaknya Salsabila adalah RAME BANGET. Beneran. 11-12 ramenya sama butiran cendol bercampur dengan santan, air, dan gula jawa di gelas kaca di tengah panas teriknya matahari. Jadi ya, kalau pas rame banget, cuma bisa renang impit-impitan aja. Belum lagi kalau banyak kimcil cewek-cewek yang cuma beremdam doang, nggak berenang, haha-hihi, atau malah foto-foto di kolam dengan kedalaman yang paling dalam (2 meter). Ngganggu orang yang niatnya memang berenang karena mereka menjajah tempat menclok cukup banyak. Hih. Saya cuma bisa cemberut.

Apalagi kolam renang Salsabila tidak terlalu luas. Nggak tahu sih, tepatnya berapa meter kubik, tapi yang jelas ya nggak luas. Kalau di sini, karena relatif ramai, cuma bisa berenang dari sisi satu ke sisi lain yang mengikuti sisi kolam yang pendek. Karena kolam ini kecil, jadi pas badan baru saja mendapatkan ritme renang yang pas, eh, udah kena tembok sisi satunya. Jadinya, ya. Begitulah.

Salsabila ini ada kantin dan musholanya. Walau sempit, tapi lumayan bersih.


Depok Sport Center (DSC)

Saya baru aja ke sini kemarin hari Jumat. Dulu pernah ke sini juga, tapi udah bertahun-tahun yang lalu. Mikirnya sih, karena udah lama nggak ke sini sekalian liat, ada yang berubah nggak. Harapannya, semakin bagus. Kenyataannya, engkau masih... seperti yang dulu... *let' sing along!*

Di DSC, ada tiga kolam. Kolam outdoor, kolam indoor, dan kolam indoor anak. Nah, untuk jam khusus cewek hanya berlaku di kolam indoor. Jadwalnya hari Kamis, Jumat, Sabtu, all day! Jadi nggak usah mikir jamnya, yang jelas harinya aja. Biaya masuknya kalau weekdays Rp 12.000,- kalau weekend kayaknya lebih mahal, tapi nggak tahu berapa hehe.

Kolamnya luas. Kalau boleh lebay, saya tulisnya luaaaaas. Kenapa saya tulis demikian, karena dibandingkan dengan orang yang berenang di dalamnya, serasa kolam renang pribadi.



Lihat ada garis biru untuk membatasi jalur? Kira-kira ada 3 atau 4 jalur gitu. Luas kan?



Nggak tahu ya, mungkin karena waktu saya ke sana itu hari Jumat jam 12-an atau emang biasanya sepi-sepi aja. Waktu saya ke sana, ada segerombolan anak SMA sejumlah 6 orang dan ibu-ibu 1 orang. Jadi kolam seluas itu isinya cuma ber-7. Wangun ra? 

Tempat duduknya sempit sekali dan hanya tersedia di salah satu sisi tembok.

Saya sih seneng kalau sepi begini. Tapi...di sini agak...horor. Ini menurut saya aja sih. Jadi gini, setelah anak-ana SMA itu mentas, ibu-ibu itu ngajak ngomong saya,
"Wah, mbak, tinggal kita berdua", sambil senyum ramah.
"Eh? Iya bu, hehe"
"Sendirian tho mbaknya?"
"Iya, hehe"
*lanjut berenang*
Setelah beberapa saat, ibu-ibu tersebut juga mentas. Saya udah agak deg-degan berenang sendirian. Tapi ya...saya tetep berenang bolak-balik saat mereka bilas dan masih duduk-duduk di pinggir kolam. Setelah mereka pergi dan ibu-ibu tadi di ruang bilas, saya pun mentas.

Akhirnya saya sendirian di kolam yang agak creepy ini.

Kenapa aku bilang agak creepy?

Suasananya hening. Nggak ada musik. Nggak ada lampu, penerangan cuma dari matahari di salah satu sisi dinding. Nggak ada petugas yang jaga.



Selain itu, area kolam indoor ini tidak terlalu bersih. Keramik di pinggir-pinggir kolam terlihat kotor. Tahu kan, kayak sedikit berlumut tapi kering, kesannya kotor gitu. Ada beberapa keramik yang dibongkar dan ada selangnya gitu, mungkin itu pompa atau apa saya juga kurang paham. Airnya dingin. Tapi tidak terlalu bening dan ada serangga atau daun kering mengambang gitu, pokoknya item-item nggak jelas, cuma dikit sih, tapi gara-gara itu saya nggak bisa berenang dengan gaya bebas, takut itu masuk mulut pas ngambil nafas. Terus tangga untuk naik dan nyemplung kolam cuma satu, kecil pula, di pojokkan. Nek nanti ada apa-apa piye? Mana badanku berat, nggak bisa langsung naik tanpa tangga :v

Sebenarnya, saya ini yang terlalu paranoid sih.

Aniway, saya pun masuk ke ruang ganti dan ketemu ibu-ibu tadi.

"Eh, udah selesai mbak?", sapanya.
"Iya, udah bu, hehe"
"Saya duluan ya,"
"Oh iya Bu..."

*saya heha-hehe melulu ya*

Saya pun bilas. Di ruang ini ada empat bilik ganti yang nggak tinggi, tingginya cuma sekepala aja. Terus ada lemari loker, bisa naruh baju atau peralatan mandi di situ. Nah di depan lemari ini ada tembok dengan empat atau lima shower. Temboknya nggak sepenuhnya menutup, tapi atapnya tinggi. Showernya nggak dipisah di bilik-bilik, melainkan satu deret di salah satu sisi tembok. Agak was-was sih. Saya bilas sambil ngecekin atas terus atau noleh-noleh paranoid.
Karena tempat bilasnya di ruang terbuka, saya bilas dengan baju renang utuh. Nggak penak, saudari-saudari. Rasanya nggak bersih. Di beberapa titik lantai ada genangan air yang mungkin dari atap bocor atau apa. Kalau saya sih risih. Setelah ganti baju, saya pun kembali ke pinggir kolam untuk mengeringkan rambut.

Sehabis pake sunblock, karena saya naik motor dan menempuh 30 menit perjalanan dari sini ke rumah, saya mendengar suara orang dateng.

Ada mbak-mbak berdua masuk. Beberapa menit kemudian, ada dua mbak-mbak dateng lagi. Tahu-tahu musik berkumandang di seluruh area kolam.

Hmm.

Saya pun menyesal udah mentas duluan, padahal  belum puas berenang. Aargh! Dasar porno, eh, parno!

Kemudian, saya menyadari hal yang nggak penting. Handuk saya merk nya BigBang. *Wow, fantastic, baby!*


Ya sudah lah. Kalau mau berenang di sini harus ngajak temen nih biar nggak paranoid. *lempar HT ke Wanda sama Hita*

Hmmm besok renang di mana ya? Kalau awal minggu udah pasti cuma bisa di Salsabila, kalau weekend ya galau deh. Kedua kolam renang di atas ada kelebihan dan kekurangannya maisng-masing. Ah. Galau. Saya cuma dua kolam renang itu yang aku tahu ada jam khusus ceweknya. Kalau ada yang tahu tempat lain, kasih tahu saya ya :D

Berenang Yuk!

by on May 31, 2014
Sejak ikut les renang pas jaman SD dulu, saya jadi suka olah raga yang satu ini. Banyak gerak tapi nggak kepanasan lha wong geraknya di air....
Sebelumnya mungkin ada yang komentar, kenapa sih saya suka banget ganti nama blog atau domain dan lain-lain. Hmmm kenapa ya? Hahaha, I don't know for sure. Saya pikir akan lebih mudah jika memulai sesuatu yang baru dibandingkan melanjutkan yang sudah ada. Makanya saya gonta-ganti sana-sini, nggak konsisten. Saya mudah bosan, sebenarnya. Pikiran saya suka loncat-loncat, kalau ada ide baru saya akan menggebu-gebu untuk membahasnya dan ide-ide seblumnya bisa terlupakan begitu saja.

Tapi saya pengen konsisten.

Saya pengen bisa rutin melakukan banyak hal. Dari bangun pagi, nulis skripsi, nge-blog, ngelanjutin proyek tulisan, sholat tepat waktu, tidur nggak kemalaman, dan istirahat yang nggak saya panjang-panjangkan sendiri. 

I feel funny, actually.

Semenjak SMA saya pengen banget dapet kebebasan mutlak. Tanya deh, sama teman bangku saya (Tyas, I miss you~), dia dulu pernah bilang kalau saya tuh pengen banget bebas berekspresi tapi saya nggak bisa. Kenapa nggak bisa? Hmmm, let see. Hormon. Ya, karena hormon, menurut saya. Masa-masa remaja saya dipenuhi dengan 'Kenapa aku nggak bisa kayak gitu? Kenapa orang lain nggak ngerti? Kenapa orang-orang pada ngeliat aku alim padahal aku emo? Emangnya jadi anak baik itu harus wadulan? Aku bisa kali, nakal sekali-kali, tapi bukan berarti aku harus nyontekin anak sekelas kan?' dan seterusnya. Saya yakin, semua remaja pasti pernah melewati masa-masa itu. Ada yang cepat pulih, ada yang terus-terusan di situ sampai umur kronologis nya melewati batas remaja (ehm).

Kalau saya dulu, bebas yang saya inginkan adalah bebas berekpresi. Terkait dengan gaya yang saya sukai namun saya disuruh untuk memakai jilbab sama Papa saya. Dulu, nggak banyak yang jual jilbab paris warna-warni, it's either putih polos jilbab anak sekolahan atau corak-corak agak norak yang dipakai ibu-ibu. Padahal, saya dulu suka gaya emo-gothic-rock n roll-tomboy-yo koyo ngono lah. Dulu juga masih jarang banget gaya-gayaan jilbab kayak sekarang. Saya dulu juga nggak begitu gaul fashion, yang bisa beli macam-macam baju yang ingin saya ekspresikan.

Sama lah, isunya. Jati diri, ekspresi diri, dan lain-lain.

Dan sekarang, saya pengen hidup yang teratur, jadi orang baik, dandan cantik seperti wanita seumuran saya, rapi, dan bermasa depan.


Yeah, right.

 Nggak gitu juga sih sebenarnya hahaha :D

Yang jelas, saya pengen lebih teratur aja, biar skripsi saya cepat kelar terus saya bisa cari kerja, cari kost-kostan, dan hidup mandiri kayak di TV-TV series barat gitu. Sayang banget di Indonesia apartemen itu jarang, banyaknya kost-kostan :p

Anyway.

Setelah menimbang dan mengukur, apakah saya membutuhkan dua blog untuk memisahkan antara tulisan kehidupan pribadi saya dan cerita-cerita kegalauan yang jadi karya fiksi, saya rasa nggak perlu ya. Jadi saya balik lagi ke sini aja. Ngelanjutin blog ini aja. Walaupun postingan lama saya revert to draft untuk saya update, jadi menghilang untuk sementara waktu di laman ini. 

Okay. That's all for the start.

Terima kasih sudah membaca :)
Pagi itu aku ndomblong sendirian di depan gedung sebelah barat. Setelah membantu seorang teman mengerjakan tugasnya, aku kembali duduk-duduk sambil celingukan. Anak-anak angkatan 2009 sebagian besar ada kelas jam 10.30, jadi wajar kalau aku nggak ada temen ngobrol. Sudoku di salah satu surat kabar jadi pelampiasan. Tapi sayang, aku gagal menyelesaikannya dan itu membuatku frustrasi.

Meliriklah aku ke salah satu bilik di gedung tersebut. Pintunya sengaja aku buka sekitar setengah jam yang lalu, biar udara pengap di dalamnya tergantikan dengan udara yang lebih segar. Sekarang ada beberapa orang yang duduk melingkar di dalamnya. Tidak lama kemudian beberapa  orang masuk satu persatu dan bergabung. Pintu pun ditutup.

Sedih rasanya, seperti kehilangan tempat tinggal. Semakin sedih pula ketika aku teringat bahwa ada beberapa urusan yang belum aku selesaikan di bilik tersebut. Aku menyesal tidak dapat melaksanakan tugasku dengan baik. Hasil dari pekerjaanku jauh dari kata baik. Mengecewakan. Aku telah meninggalkan seonggok sampah yang penuh dengan penyesalan.

Aku pun mengirim pesan cinta kepada mantan pimpinan. Penyesalan selalu datang belakangan, itu yang aku sayangkan. Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal? Kenapa aku terlalu sibuk dengan kepentinganku sendiri? Sekarang perbaiki, katanya. Sebisa mungkin. Oke, aku akan berusaha.

Mereka bilang kekeluargaan. Namun kami tidak merasa seperti keluarga. Setidaknya aku tidak merasa seperti keluarga. Kekeluargaan sepertinya hanya alasan untuk tidak disiplin dan bekerja semaunya.  Keluarga semestinya kompak. Keluarga itu mendengarkan, berbagi, memahami, dan menerima. Itu idealnya.

Perlu diingat, tidak semua keluarga ideal. Bisa jadi keluarga yang kami jalani selama satu tahun ini broken home. Aku bingung, kenapa kami bisa seperti ini. Dulu kami rajin berkomunikasi, makan bersama layaknya sebuah keluarga. Aku pun mulai menerima dengan pasrah pekerjaan yang tidak aku sukai itu. Namun sesuatu terjadi. Entah karena bosan atau telah menemukan keluarga lain yang lebih menarik. Lalu kami jadi seperti ini. Jarang berbincang. Pergi dengan urusan masing-masing.

Manis di awal. Pahit akhirnya.

Aku tidak berkata bahwa aku tidak bersalah. Bahkan bisa dikatakan aku yang memiliki kesalahan yang paling fatal. Hanya pekerjaanku yang belum beres. Sekarang aku merasa seperti hantu yang kelayapan karena punya unfinished business.

Kalau boleh membela diri lagi, aku akan membawa mereka ke hari di mana aku menolak pekerjaan ini. Bukan karena malas, tapi aku tidak suka birokrasi dan aku sering melakukan prokrastinasi. Mengapa itu bisa luput dari perhatian mereka? Keputusan yang terburu-buru, ku rasa. Opsi yang tidak tersedia dengan imbang. Pekerjaan itu pun aku pikul dengan terpaksa.

Sekarang bisa dilihat hasilnya. Aku mengecewakan banyak orang. Aku mengecewakan diri sendiri. Aku tidak total. Aku terlalu sibuk membenci pekerjaanku sehingga pekerjaan itu sendiri tidak terurus. Udah lah. Pembelaan yang tidak penting, sebenarnya. Pembelaan yang hanya menunjukkan betapa lemah dan sombongnya aku. Padahal akhirnya ya…menyesal kan.

Sekarang sedang aku usahakan. Aku kembali menyentuh berkas yang terabaikan.

Semoga cepat selesai.

Aku nggak mau jadi hantu penasaran.

21 Februari 2012

by on February 24, 2012
Pagi itu aku ndomblong sendirian di depan gedung sebelah barat. Setelah membantu seorang teman mengerjakan tugasnya, aku kembali duduk-dud...
Taken from here

I'll Be There For You
(by The Rembrandts)


So no one told you life was gonna be this way *clap*clap*clap*clap*
Your job's a joke, you're broke, your love life's DOA 



It's like you're always stuck in second gear
When it hasn't been your day, your week, your month, or even your year

but.. 

I'll be there for you
When the rain starts to pour
I'll be there for you
Like I've been there before
I'll be there for you
'Cuz you're there for me too...

You're still in bed at ten and work began at eight 
You've burned your breakfast so far... things are goin' great 

Your mother warned you there'd be days like these
Oh but she didn't tell you when the world has brought
You down to your knees that...

I'll be there for you
When the rain starts to pour
I'll be there for you
Like I've been there before
I'll be there for you
'Cuz you're there for me too...

No one could ever know me
No one could ever see me
Seems you're the only one who knows
What it's like to be me
Someone to face the day with
Make it through all the rest with
Someone I'll always laugh with
Even at my worst I'm best with you, yeah

It's like you're always stuck in second gear 
When it hasn't been your day, your week, your month, 
or even your year...

I'll be there for you
When the rain starts to pour
I'll be there for you
Like I've been there before
I'll be there for you
'Cuz you're there for me too...

I'll be there for you
I'll be there for you
I'll be there for you
'Cuz you're there for me too...


Copied from here

Taken from here


Rachel Green (Jennifer Aniston) batal nikah dan kelayapan di sebuah coffee shop dengan mengenakan gaun pengantinnya di suatu siang. Monica Geller (Courteney Cox) berhasil menurunkan berat badannya secara drastis. Ross Geller (David Schwimmer) yang bergelar professor antropologi meratapi perceraiannya dengan wanita yang ternyata lesbian. Chandler Bing (Matthew Perry) selalu berupaya untuk melucu di setiap suasana, apalagi saat ia sedang nervous. Phoebe Buffay (Lisa Kudrow) yang tumbuh di jalanan dan terkadang berperilaku 'aneh' senang bernyanyi dan menciptakan lagu yang tidak biasa. Joey Tribbiani (Matt LeBlanc) yang kekanak-kanakan merintis karirnya sebagai aktor dan memiliki hobi tidur bersama wanita cantik yang bahkan tidak ia ingat namanya.

Taken from here

FRIENDS bercerita mengenai enam sahabat dan kesehariannya. Genre nya comedy-romance. Latarnya Manhattan, tapi syutingnya di set studio. Itu lho, kayak Suami-suami Takut Istri. Hahahaa...tapi jangan kuatir, komedinya lebih lucu dan suara tawa penontonnya nggak palsu kayak kebanyakan sitkom Indonesia. Menghibur kok, dengan isu-isu yang biasa terjadi pada dewasa muda, khususnya dewasa Amerika, seperti pernikahan, pekerjaan, hubungan romantis, atau sekedar kejadian sehari-hari yang bisa dialami oleh siapa saja.

TV series ini ditayangkan dari tahun 1994 sampai 2004. Yup, 10 tahun lamanya. Coba tengok, sitkom Indonesia mana ada yang tahan selama 10 tahun. (Hehehe, dari tadi ngebandingin terus ih, udah ah :p) Jadi kalau baru nonton sekarang, kita bisa bener-bener liat perubahan gaya pakaian mereka dari season ke season.

Nah, karena berlatar tahun 90-an, teknologi yang muncul di series ini juga teknologi tahun 90-an, seperti  pager, walkman, dan  fax. Nggak cuma teknologi sih, informasinya pun juga yang lagi hip di tahun tersebut, misalnya saat mereka memperbincangkan artis, untuk anak muda atau remaja jaman sekarang mungkin akan mengkerutkan kening ketika mendengarnya. Aku juga kadang nggak tahu sih. Hehehe

Menyenangkan. Untuk aku, series ini lucu banget, nggak akan bosan ditonton! Rekomendasi nomor satu buat temen-temen yang suka serial komedi barat! :D

Aku ada beberapa episode favorit, seperti waktu mereka taruhan siapa lebih kenal siapa (season 4) --> ada quote favoritku di sini oleh Monica Geller : THAT'S NOT EVEN A WORD!!

Taken from here


Sama waktu thanksgiving (kalau nggak salah season 8) di mana Brad Pitt jadi bintang tamunya. Terus waktu nikahannya Phoebe juga. Terus waktu mereka ikut lotre. Sama waktu thanksgiving di season 10. Dan...masih banyak sih, aku nggak hapal. Maaf ya, aku fans yang kurang baik  -_____- 

Dari series ini banyak hal yang aku pelajari, teman-teman. Hehehe.

Ternyata untuk menjadi orang dewasa nggak melulu berpikiran serius, sah-sah aja ketika kamu berperilaku konyol bersama teman-teman dekat. Mengikuti passion dan kata hati itu penting, itulah kunci untuk mengenali diri. Menjadi diri sendiri tanpa melanggar hak orang lain itu boleh, nggak masalah. Cinta itu rumit, apalagi kalau nggak diakui. Apapun kesalahannya, minta maaf dengan tulus ke sahabat akan selalu dimaafkan, berapa pun lamanya proses dan konsekuensi yang harus dihadapi. Rahasia itu ada baiknya untuk disimpan sendiri, tapi baik pula untuk dibagi bersama sahabat yang terpercaya. Menikah itu...simpel, pernikahannya yang ribet. Jodoh udah ada yang ngatur, kalau emang jodoh nggak akan ke mana-mana --> sedikit penerangan untuk yang lagi galau jodoh.

Taken form here

Yang paling penting dari keseluruhannya sih...bahagia itu banyak caranya. Bukan hanya karena mampu membeli sesuatu atau status pernikahan. Selagi ada yang menemani dengan tulus dan jujur, hidup rasanya akan lebih mudah. Itulah pentingnya untuk menjadi sahabat yang baik, membangun kebahagiaan diri dengan belajar membahagiakan orang lain :)

Taken from here

*curhat dikit*
Setelah melihat series ini, aku jadi merasa bahwa aku bukanlah teman yang baik. Aku nggak selalu ada saat dibutuhkan. Aku nggak selalu merespon dengan kepedulian yang maksimal.
Aku masih harus belajar lagi menjadi teman yang utuh.
Aku sendiri kadang masih ngerasa sendirian sih....
It feels terrible. 

F.R.I.E.N.D.S

by on February 01, 2012
Taken from  here I'll Be There For You (by The Rembrandts) So no one told you life was gonna be this way *clap*clap*cl...
Sejak SMP sampai SMA, aku nge-fans banget sama Jamie Cullum. Suaranya menenangkan, enak buat rileks. Aku juga sempat beli kedua kaset pertamanya. Benar, kaset, saudara-saudara! Waktu itu aku cuma mampu beli kaset di Gramedia. Tapi itu udah mending banget, masih bisa beli kaset. Dulu masih cupu, belum kenal download dan mp3 itu apa juga masih belum paham. Dulu habis beli kaset langsung deh, uang jajan tinggal separuh. Hari-hari berikutnya pun jadi ngirit habis-habisan, bawa bekal ke sekolah, dan mintain jajanan temen. Hahahaha

Edited by me in picnik.com
Anyway, dulu aku paling suka ndengerin kasetnya waktu mau bobok siang. Entah karena kualitas player ku yang jelek atau apa, tapi musiknya Jamie Cullum terdengar lembut dan terkesan 'jauh', nggak jelas-jelas amat, jadinya pas lah buat pengantar tidur. Selain itu lagunya juga bagus-bagus. Favoritku adalah Photograph, London Skies, Nothing I Do, Old Devil Moon, 21 Something, aaaa banyak lah!

Musisi imut beraliran jazz ini sempat menggoncangkan duniaku. Berlebihan emang, tapi begitulah adanya.

Jadi, waktu dia ke Indonesia buat Java Jazz tahun 2008 (kalau nggak salah ingat), dia diberitakan dicium sama Azhari bersaudari. Bener banget. Ciuman sama kakak beradik bohay itu. Aku waktu lagi di kelas TI, lagi googling namanya dan tahu-tahu muncul berita menggemparkan itu.

WHAAAAAT??? Those b@$#% kissed him for real?? WTF!!

Lalu aku mencak-mencak di depan komputer kayak orang gila. Teman-temanku pun jadi sasaran.

Ngomong-ngomong tentang gila, dulu aku juga pernah jadi gila gara-gara dia. Ya....gila sama iseng bermain dengan imajinasi beda tipis kali ya. Jadi waktu SMA, aku pernah nulis surat di buku yang aku tujukan ke Jamie Cullum, yang isinya adalah bagaimana besar keinginanku untuk motong rambutnya yang waktu itu lagi gondrong. Gemeeeeees!! Pengen motong rambutnya!! Kyaaaaaa~!! >o<



Sounds insane, I know. Alay banget yak. -____-

Sekarang...aku nggak segila itu, aku nggak secinta itu sama Jamie Cullum. Udah jarang ndengerin lagunya, ya mungkin sekali-kali aja kalau lagi pengen. Sekarang kalau ada berita dia tunangan sama siapa kek, dicium siapa kek, ditelanjangi siapa kek, aku nggak sepeduli dulu. Mungkin karena banyak musisi lain yang baru aku kenal setelah itu, mungkin karena urusanku semakin banyak sehingga kurang ada waktu untuk fangirling....nggak ding, kayaknya aku hanya malas. Melihat Icong yang fangirling tiap hari bikin aku kangen sama musisi-musisi yang sebenarnya aku ingin nge-fangirling-i (kata opo iki -____-) mereka. Jadi pengen fangirling...

Sekarang artikel-artikel dan gambar-gambar yang aku potong dari majalah atau koran tentang musisi dan aktor favoritku dulu aku simpan di sebuah kotak. Kunamakan Kotak Masa Lalu... Box of Past. Nyahahaha, namanya bikin galau! Kotak itu nggak cuma gambar artis doang isinya,  kapan-kapan aku ceritakan isi kotak itu apa aja ;)

Jamie...Jamie...kayaknya dia sekarang udah tunangan deh. Sama siapa yang jelas bukan aku dan aku nggak kenal. Udah biasa aja sih, nggak ada rasa apa-apa, tapi aku masih suka sama musiknya. Niatku dulu yang ingin memotong rambut Jamie Cullum pun hilang sudah, tertelan oleh keinginanku untuk melakukan hal lain, termasuk untuk membeli iPhone.

Ngomong-ngomong tentang iPhone.... besok ajalah ceritanya.

Daaaaan aku lagi ujian lhoh! Masih ada 2 tugas ujian take home yang belum aku kerjakan padahal Kamis besok harus dikumpulkan. Masih ada 2 tugas tambahan yang belum aku kerjakan padahal minggu depan harus dikumpulkan. Wish me luck ya, ujian semester ini adalah ujian paling nggak niat di sepanjang sejarah perkuliahanku.

Bye bye bye, aku mau garap tugas dulu! ;D

Jamie's Hair

by on January 11, 2012
Sejak SMP sampai SMA, aku nge-fans banget sama Jamie Cullum. Suaranya menenangkan, enak buat rileks. Aku juga sempat beli kedua kaset pert...