Showing posts with label day by day. Show all posts
Showing posts with label day by day. Show all posts
The frustrating feeling when you're inspired to write a songfic but then get distracted by other intense song and you want to write another songfic from that song...and end up with two half done messy plot lines.

Clearly, I'm not a good writer. Yet.

Bad Post Title

by on April 30, 2016
The frustrating feeling when you're inspired to write a songfic but then get distracted by other intense song and you want to write an...
Sudah nonton Game of Throne?

Saya tadi pagi baru nonton. Saya nangis di 20-an menit pertama. Huhuhuhu. Akhirnya.... AKHIRNYA story line yang paling kunantikan ~~~ (/ T~T)/ *lari memeluk Sansa*

Ah, jadi ingat setahun yang lalu...

Duh, gambarnya butuh dipotong. Besok ah aku benerin. Bye.

Hampir Lupa

by on April 28, 2016
Sudah nonton Game of Throne? Saya tadi pagi baru nonton. Saya nangis di 20-an menit pertama. Huhuhuhu. Akhirnya.... AKHIRNYA story lin...



HAAAAI!! :D

Aku akan menulis di blog ini dengan lebih rajin lagi, seperti rajinnya aku nulis skripsi (which is not rajin at all hahahaha). Iya guys, aku belum lulus nih. Doakan ya, terima kasih banyak. Hehehe

Kalau ada yang penasaran bagaimana kabarku, aku biasa-biasa saja. Nggak banyak yang berubah. You know. Just try to survive. I'm still seeking a way to keep me motivated. Begitulah. Kalian gimana? Apa kabar? 

Semalam aku kembali menulis buku harian. Setelah nonton It's Kind of A Funny Story, ada desakan untuk menulis lebih sering lagi biar jiwa ini sembuh dari perasaan-yang-kayaknya-depresi-yang-miriplah-sama-Craig (tokoh utama di fim tersebut). Ternyata nulis tangan sambil tengkurap itu bikin pergelangan tangan capek ya, udah lupa rasanya. Ah, lagi-lagi nostalgia.

Yak. Begitulah. Oke.

Do you like my new template? Because I really do! Tadinya mau ganti foto buat banner sekalian, tapi apa daya belum punya duit buat DP ke Ameng :))

It's Been Sooooo Long

by on April 24, 2015
HAAAAI!! :D Aku akan menulis di blog ini dengan lebih rajin lagi, seperti rajinnya aku nulis skripsi ( which is not rajin at all h...
~Selamat Idul Fitri 1435 H~

Taqabbalallahu minna wa minkum

Atas segala ucapan maupun tindakan saya yang melukai hati, saya mohon maaf lahir dan batin.
Saya banyak salah, banyak suudzon, banyak nggosipin orang, banyak berkeluh kesah, pokoknya banyak dosanya sama kalian, saya mohon maaf.
Mohon maaf ya, lahir dan batin ya :'
Besok kalau kita ketemu entah di jalan atau pas syawalan, semoga bisa salaman satu-satu biar makin afdol maaf-memaafkannya.

Semoga hati dan jiwa kita kembali suci...

...dan siap untuk dikotori lagi. *eh!*

Astaghfirullah...

Hehe.


Semoga kita bisa jadi manusia yang nggak bosan belajar, yang peduli terhadap sesamanya, yang lapang hatinya, yang menularkan rasa damai kepada sesamanya.
Semoga kita bisa lebih baik dari yang kemarin dan termasuk golongan orang yang selalu dirahmati Tuhan Yang Maha Esa.

Amiin



Eid Mubarak!

Peace out!

Selamat Lebaran!

by on August 03, 2014
~Selamat Idul Fitri 1435 H~ Taqabbalallahu minna wa minkum Atas segala ucapan maupun tindakan saya yang melukai hati, saya mohon m...
Saya nggak suka kalau ada asap rokok di sekitar saya. Saya nggak suka menemukan orang yang ngerokok di tempat yang seharusnya bebas dari asap rokok, misalnya sekolahan, kampus, tempat-tempat ber-AC, atau tempat-tempat yang jelas-jelas ada tulisannya DILARANG MEROKOK.

Tapi tenang, saya juga bisa beradaptasi. Kalau memang tempat yang saya kunjungi sudah biasa ada asap rokok/diperbolehkan merokok, maka saya nggak berhak jengkel. Misalnya kayak cafe yang menyediakan asbak, tempat main bilyard yang ber-AC tapi menyediakan asbak (I can't understand this logic), intinya tempat-tempat yang menyediakan asbak = boleh merokok.

Asap rokok membuat saya batuk. Bukan hanya asapnya yang mengganggu kesehatan, tapi aroma nya juga nggak enak. Ada aroma asap rokok yang sangat mengganggu, tapi ada pula yang wanginya agak ringan sehingga bisa saya toleransi.

Saya pernah membicarakan rokok dengan teman-teman. Salah satu teman berkata bahwa cowok yang menikmati rokoknya itu keren. Saya dulu nggak paham, apanya yang keren? Apa bunuh diri perlahan itu keren?

Tapi, kemarin saat saya melihat adegan ini dengan slow motion...



....kini saya paham.

Btw, gif di atas kurang ada feel-nya. Mungkin yang bikin keren adalah slow motion dan background musik nya. Plus, akting nya si Nico Mirallegro yang keren. Itu yang bikin saya meleleh gemes.

Smoking Hot!

by on July 05, 2014
Saya nggak suka kalau ada asap rokok di sekitar saya. Saya nggak suka menemukan orang yang ngerokok di tempat yang seharusnya bebas dari a...
Saya sempat kerja part time di Lir. Mungkin selama 3-4 bulan, saya kurang ingat. Banyak pengalaman yang saya ambil. Selama di sana saya ngerasain seneng, sedih, sebel, tapi seneng lagi hahaha. Setelah beberapa bulan di sana, saya memutuskan untuk menyudahi masa part time saya karena saya mau fokus skripsi.

Tapi kok saya nggak fokus-fokus juga ya. Berarti faktornya ada di saya, bukan di kegiatan saya :v

Anyway, setelah nggak part time di sana lagi, sampai sekarang saya belum pernah ke sana lagi. Beberapa kali mau mampir, tapi ntah pas di jalan malah mampir ke tempat lain atau lupa terus malah langsung balik ke rumah.

Saya kangen Lir. Pekerjaan saya di sana memang hanya menyapu, masak, mencuci piring, bikin minuman, dan buka-tutup toko, sesuai jadwal saya. Tapi saya bisa ya, kangen. Padahal saya bisa aja bersih-bersih dan masak di rumah.

Saya kangen Lir. Suasana di sana nggak ada yang ngeduain. Sepi. Nyenyet. But it's a good type of quiet. Tenang. Bikin ngantuk, kadang-kadang. Tempat mana yang sesepi itu, tapi kamu menikmati kesepian tersebut? Bukan untuk mikir, bukan untuk mengerjakan sesuatu. Tapi untuk relaxing. Untuk menikmati kesunyian yang menyenangkan.
Saya kangen Lir. Coba, cafe mana yang nawarin makanan dan minuman yang terinspirasi dari novel atau cerita? Di Jogja, mungkin cuma Lir.

Aaaaakk saya kangen Lir.

Pertama kalinya saya ke Lir. Sama Kikin. Tahun 2011.

Kangen Lir

by on July 05, 2014
Saya sempat kerja part time di Lir . Mungkin selama 3-4 bulan, saya kurang ingat. Banyak pengalaman yang saya ambil. Selama di sana saya n...
Nulis apa ya....

Hari ini saya marathon My Mad Fat Diary. Karena settingnya di Inggris, saya senang dengerin aksennya yang kaku-kaku gimana gitu hihihi. Saya lebih sering nonton serial tv US, jadi serial ini cukup memberi angin segar di koleksi series saya.

Seperti yang saya tulis kemarin, My Mad Fat Diary ini tentang gadis berumur 16 tahun yang baru saja keluar dari rumah sakit mental. Kalau kita lihat, umur 16 tahun di Indonesia itu baru bisa apa jal? Di Jogja aja deh. Kalau saya dulu, umur 16 masih polos, kegiatannya sekolah dan les. Ya mungkin saya yang cupu aja sih. Tapi kalau dibandingkan orang Barat, wow, umur 16 di sana kehidupan sosialnya kayak umur 20 di sini. Sekali lagi ini perbandingan pribadi saya ya, karena waktu remaja saya cupu sekali.

Kapan-kapan nularin temen buat nonton ini ah.

Apa?

by on July 02, 2014
Nulis apa ya.... Hari ini saya marathon My Mad Fat Diary. Karena settingnya di Inggris, saya senang dengerin aksennya yang kaku-kaku g...
Selamat datang, bulan Ramadhan! :D

*nepuk-nepuk rebana, shalawatan*

Mohon maafkan kesalahan-kesalahan saya yang menyakiti hati kalian, sepertinya saya sering banget bikin orang lain bete atau marah atau malah saya yang sering bete dan marah-marah sehingga bikin orang lain ikut bete terus marah-marah.
Hehe
Maafkan ya :'

Mari berpuasa dengan hati yang lapang dan damai~
Semoga selalu diberkahi Allah SWT

Happy fasting, everyone!

Puasa Puasa

by on June 28, 2014
Selamat datang, bulan Ramadhan! :D *nepuk-nepuk rebana, shalawatan* Mohon maafkan kesalahan-kesalahan saya yang menyakiti hati kal...
Kemarin, saya piknik  Gunung Gedhe, bagian dari Gunung Nglanggeran yang terletak di Gunung Kidul.

Err oke, ada tiga kata 'gunung' di kalimat barusan. Ah, moving on.

Saat diajak ke Nglanggeran oleh salah seorang teman, saya nggak tahu kalau itu bisa disebut hiking, karena waktu itu yang terbersit di kepala saya adalah : jalan-jalan di gunung. 

Penggunaan kata 'jalan-jalan' itu sedikit menyesatkan. Kurang spesifik. Bagi saya yang menangkap kata 'jalan-jalan' adalah kegiatan berjalan santai, maka saya asumsikan di Nglanggeran juga santai. Di salah satu blog yang saya baca juga bilang nggak terlalu capek. Setelah tanya-tanya ke kakak saya yang pernah ke sana, dia bilang nggak capek-capek banget. Lumayanlah, katanya. Jadi saya percaya-percaya saja. Karena pada bilang begitu, sehari sebelumnya saya tetap berenang sampai puas dan malamnya masak nasi goreng gila-gilaan (karena lelah renang+udara yang kebetulan lagi sumuk) untuk bekal keesokan harinya. Saya bawa bekal karena mau ngirit. Sekalian pamer masakan ke Mas pacar hihihi :p

Selama ini, kegiatan hiking yang saya ketahui adalah naik gunung dan berkemah di sana, sehingga melibatkan kegiatan berjalan di jalur gunung yang ekstrim dan menginap. Peralatannya pun macam-macam, bawa tenda, tali temali, tikar, minuman berliter-liter, dan lain sebagainya. Kalau saya baca dari sini, walaupun nggak pake menginap sepertinya sudah bisa dibilang hiking. Lokasi yang sudah dimudahkan, ada petunjuk, dan tidak memakan waktu yang lama, adalah ciri-ciri hiking. Wah, berarti saya selama ini salah istilah. Saya pikir yang singkat itu tracking, bukan hiking.

Tapi setelah baca artikel di sini, saya malah bingung. Apa benar yang kemarin saya lakukan itu hiking? Bukan cuma walking, yang artinya, ya bener...berjalan. Jadi saya sudah bener dari awal dong, jalan-jalan di gunung *bzzz*

Katakanlah kalau benar kemarin itu bisa disebut hiking, kalau tahu saya mau hiking, saya pasti bakal lebih semangat. Walaupun bukan hiking ala-ala Mapagama, tapi tetap saja hiking. Bukannya kemarin saya nggak semangat, tapi kalau saya tahu bakal hiking, saya bakal super excited! Ketahuilah teman, super excited itu bagi saya bersemangat dikalikan tujuh! Saya belum pernah hiking sebelumnya! Cuma masalah istilah aja sih, tapi sungguh, efeknya luar biasa bagi saya! :D

Penasaran sama perjalanan saya?

Eh apa?

Enggak? :(

Nggak apa deh, besok aja saya ceritanya yaaa.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------bersambung


Btw, saya utang dua hari SelapanNulis, hari Senin dan Selasa. Berarti ada 5 tulisan termasuk tulisan hari Rabu ini.
Saya boleh curang enggak? Hutangnya saya bayar satu dulu, yang lain besok. Gimana? Berarti untuk yang hari ini saya nggak utang ya, besok saya nulis 5 tulisan termasuk hari Kamis.
Hahaha
Sampai jumpa besok!

Saya Lagi Tepar

by on June 25, 2014
Kemarin, saya piknik  Gunung Gedhe, bagian dari Gunung Nglanggeran yang terletak di Gunung Kidul. Err oke, ada tiga kata 'gunung...
Akhirnya saya melewatkan satu hari #SelapanNulis. Berarti saya harus nge-post tiga tulisan hari ini. Hhh. Okelah...

Tadi malam, saya mau curang. Karena saya lelah, niatan untuk menulis quote yang nggak mutu sudah terencanakan, tapi kemudian tulisan saya menjadi cukup panjang. Setelah separuh jalan menulis, tiba-tiba...

*pet!*

Lampu mati. Waktu itu saya belum sikat gigi, belum cuci muka, dan belum menunggah tulisan saya, saya memutuskan untuk langsung tidur. Tapi bayangan gigi yang terancam akan sakit dan berlubang dan perasaan tidak nyaman ketika bangun di keesokan harinya karena saya tidur tanpa sikat gigi dan cuci muka, saya memutuskan untuk tetap melakukan ritual malam seperti biasa. Hanya saja ini tidak biasa. Dengan perasaan deg-deg an karena gelap gulita dan tidak ada suara lain selain hujan dan angin, saya mencari-cari senter di dekat majic com, penanak nasi.

Saya punya hubungan yang rumit dengan meja tempat majic com. Pasalnya, majic com adalah benda yang saya temui setiap hari untuk mengambil nasi saat saya mau makan. Meja tersebut juga dekat dengan water dispenser, yang setiap hari saya hampiri lebih dari 5 kali. Jadi, mau nggak mau, saya pasti menghampiri meja tersebut. Yang saya nggak suka adalah...cicak. Sering kali saya menemui cicak di meja tersebut. Mereka mengintai dan mencari jika ada sisa nasi yang jatuh untuk mereka lahap. Bukannya saya nggak suka ngasih makan binatang liar, tapi saya gilo pol sama binatang melata yang satu itu. Hiii. Jadi setiap saya ketemu sama cicak di meja tersebut, saya mengusirnya dengan suara sok garang namun sebenarnya gilo.

Saya sudah malas dan kesal untuk ketemu cicak di setiap saya mau makan. Saya nggak mau sengaja meraba cicak yang mungkin sedang iseng nongkrong di gagang senter. Dengan setengah hati, saya membawa ipad untuk menerangi jalan saya... (terangilah jalan saya selalu, Ya Allah..amiin)

Saya menemukan senter dengan mudah. Nggak pake lama, saya bawa senter ke depan wastafel. Ternyata senternya nggak seterang harapan saya. Saya pun memposisikan senter sedemikian rupa sehingga sinarnya dapat lebih terpencar. Tapi saya gagal. Ya sudah, saya pasrah.

Jadi, saya berdiri di depan wastafel dengan cermin untuk sikat gigi. Sebelumnya, saya tolah-toleh untuk meyakinkan diri bahwa tidak ada makhluk apapun di sekitar saya, karena kadang-kadang saya menemukan tokek di dinding. Saya sudah cukup gilo dengan cicak, apalagi dengan versi yang lebih besar dan lebih berwarna. Hiii. Saya bisa benar-benar tercekat ketika kaget melihat tokek. Itu hanya satu makhluk yang saya lihat kadang-kadang. Belum makhluk yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Misalnya..... 'makhluk'.

Dengan menatap cermin, saya merasa kegiatan membersihkan mulut saya tersebut lebih optimal. Tapi dengan keadaan gelap dan hanya diterangi oleh cahaya senter, bayangan saya di cermin terlihat...creepy. Rambut saya yang nggak tersisir dan kantung mata hitam yang menggantung nampak lebih seram terkena terpaan sinar senter yang nyelorot tapi redup. Saya nggak takut dengan bayangan saya sendiri. Yang saya takutkan adalah bagaimana jika bayangan saya menjadi dua. Atau ada bayangan lain yang tiba-tiba muncul setelah sekian detik saya berpaling dari cermin.

Parno? Iya.

Sebenarnya saya belum pernah melihat penampakan, apapun bentuknya. Tapi yang tidak bisa kita lihat belum tentu tidak ada kan? Lagipula saya memang percaya bahwa hal-hal ghaib memang ada di sekitar saya. Beberapa orang yang saya kenal pun ada yang bisa melihat hal-al tersebut. Bagaimana kalau saya yang nggak pernah melihat tahu-tahu bisa melihat? Akankah saya kaget? Akankah saya takut? Atau saya sebenarnya bisa melihat tapi saya nggak mau melihat jadinya mereka nggak kelihatan?

Hahaha. Kayaknya saya sering banget menuliskan pertanyaan beruntut di setipa tulisan saya di sini.

Anyway.

Setelah gosok gigi dan cuci muka, saya kembali ke kamar saya.
Lalu tiba-tiba, listrik kembali menyala.

Cepat-cepat saya nyalakan netbook, berniat untuk kembali menuliskan apa yang tadi sempat terpotong. Sialnya, Speedy nggak mau nyambung. Entah kenapa. Ya sudah. Saya pasrah.

So, here I am, writing my first post for mbayar utang tulisan.



Next!

Tadi Malam

by on June 19, 2014
Akhirnya saya melewatkan satu hari #SelapanNulis. Berarti saya harus nge- post tiga tulisan hari ini. Hhh. Okelah... Tadi malam, saya...

Saya meneteskan air mata siang tadi. Menangis terharu, seperti ketika saya sedang nonton film The Help. Tapi ini bukan sekedar film. Ini nyata terpampang di hadapan saya. Saya melihat hubungan ibu dengan anaknya yang terpisah jauh, yang beberapa bulan belakangan sedang mengenal dan mengajari satu sama lain. Saya nggak percaya sebelumnya bahwa adik saya yang manis ini bisa begitu dewasa dalam menghadapi permasalahan hidupnya yang pelik. Setelah pertemuan dengan Mama-nya, kami bertiga berpelukan. Saya, adik saya yang cantik, dan adik saya yang manis. 

Setelah tertawa karena malu dilihatin orang lain, kami menyudahi acara peluk-pelukan yang penuh haru. Kami pun berjalan keluar, menuju tempat parkir di mana motor kami berada.

Entah sebelumnya kami membicarakan apa, tapi tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang membuatku khawatir.

“Besok bisa-bisa aku jadi kayak Mama,”

Dia berkata demikian dengan santainya. Perkataan itu membuat saya ingin memeluknya lagi dan menyuruhnya agar jangan bicara yang tidak-tidak. Mungkin memang ada kekhawatiran terlintas di benaknya, tapi saya yakin dia tidak serius.

“Enggak wis, nggak gitu, kan kamu udah..”

“Udah apa mbak?”

“Udah tahu, hehe”

Bukan itu sebenarnya yang ingin saya sampaikan kepadanya. Saat saya ingin membuka mulut saya lagi, kami bertiga telah siap untuk berkendara ke tujuan berikutnya. Saya pun mengikuti motor yang mereka kendara. Dalam perjalanan, saya menyusun kata-kata yang sebenarnya ingin saya sampaikan.

“Dulu mungkin Mama nggak punya siapa-siapa. Sekarang Mama punya kamu. Dan kamu, kamu punya kita. Kamu yang menjaga Mama dengan baik-baik dan kami yang akan menjagamu.”

Menjagamu

by on June 11, 2014
Saya meneteskan air mata siang tadi. Menangis terharu, seperti ketika saya sedang nonton film The Help. Tapi ini bukan sekedar film. In...
Kadang bete juga dipanggil 'ibu' sama mas-mas yang nggak kenal. Ya iya lah, kalau kenal saya, dia nggak bakal manggil 'Bu' :p. Dulu saya pernah keki abis ketika ada mahasiswa semester awal manggil saya 'Ibu' pas saya jaga Lir. Perasaan muka saya belum kelihatan tua. Tapi waktu itu saya memang lagi capek banget, ditambah bete, jadi ya...mungkin muka saya seperti nenek sihir.

Terus waktu ngurus perpanjangan SIM beberapa waktu yang lalu, bapak-bapak yang ngurusin administrasinya juga memanggil saya 'Bu'. Begini ceritanya.

Waktu kloter saya antri, karena nggak kebagian kursi saya malah jajan J.Co di lantai bawah. 40 menit kemudian, saya balik ke SIM Corner. Eh, pas nomor saya dipanggil dan menuju salah satu booth, ternyata yang dipanggil barusan bukan nomor urutan formulir, tapi nomor baru yang dipakai untuk membayar biaya pembuatan SIM. Membingungkan memang. Mbok dikasih kode gitu. Yang kecele  dan bingung akan dua nomor ini bukan hanya saya saja lho.
Oke, kembali ke cerita.

Walaupun kecele, saya pede aja menghampiri bapak-bapak dengan meja yang berisi tumpukan formulir. Waktu menanyakan nasib saya (nasib bikin SIM maksudnya), saya ditegur sama bapak tersebut. 

"Ini sudah dipanggil dari tadi lho, Bu.", kata bapak tersebut sambil bermuka agak sebal.

"Maaf pak, tadi lama, saya nggak dapet kursi terus saya ke sana sebentar", kata saya sedikit membela diri.

"Saudah saya panggil berapa kali ini, tapi tadi nggak ada,"

Lalu bapak tersebut menanyakan beberapa informasi yang diperlukan dengan masih meng-ibu-kan saya. Sampailah bapak tersebut membaca tanggal lahir saya...

"Sudah Ibu atau masih Mbak ini?", tanya bapak tersebut.

Dengan cengengesan, saya menjawab, "Ya, masih 'mbak', pak, hehe.."

"Oooh masih mbak, tho! Ya nyuwun ngapunten saya ndak tahu", katanya sambil senyum-senyum.

Saya sih, ikut senyum-senyum aja. Ngerasa bersalah juga tadi telat. Udah ah, senyum-senyum aja biar bapaknya nggak bete. Hahaha

Mungkin karena postur saya atau dandanan saya ya. Kebetulan waktu itu saya dandan cewek, pake kerudung bunga-bunga, pake tas cewek, pake sepatu wedges juga. Kalau saya pake sepatu olahraga kesayangan saya (yang namanya Robins, kapan-kapan saya kenalin haha), rasanya saya nggak pernah dipanggil 'Ibu'. Apa benar ini semua gara-gara sepatu? Ah, nggak juga sih. Saya pake sandal jepit yang unisex juga pernah dipanggil 'Bu'. Berarti ini nasib saya. Hahaha

Sekarang saya senyum-senyum aja ah, kalau dipanggil 'Ibu'. Mau dipanggil mbak, tante, ibu, budhe, yang penting cantik hahahaha :p

Sesungguhnya, dipanggil ‘ibu’ itu adalah pujian ya. Pujian karena terlihat keibuan. 

Keibuan : bersifat seperti Ibu.

Berarti saya keibuan. Dulu waktu piknik sama teman-teman, saya dibilang keibuan karena saya yang bawa nasi, bawa termos minum, terus saya yang mbagi-mbagi nasi. Sakjane karena saya mikir makan terus sih terus udah laper hahahaha

Saya majang foto nggendong anak kacil ah, biar kalian yakin bahwa saya keibuan.

Ini sama keponakan yang nomor dua. Imut-imut ya? :D


Ibu itu ya, segalak-galaknya Ibu, mau marah-marah, ngomel-ngomel yang kayak gimana, itu karena sayang. Sama kayak saya. Kalau kamu saya galakin, itu tandanya saya sayang kamu :))
Hashtag untuk kegiatan menulis selama 35 hari ini masih didiskusikan oleh teman-teman Padakacarma saat saya mulai menulis post ini. Yang bener gimana sih? Apakah 'selapanan' udah fix hanya menjadi istilah kenduri untuk bayi berumur 35 hari saja? Atau nggak apa kalau kita pakai istilah itu terus nambahin kata 'nulis' biar nggak salah paham? Atau boleh-boleh aja memakai istilah tersebut tapi setelah selesai, kami harus kendurian dan memotong rambut kami masing-masing? Jadi penasaran, ini selesainya pas neton-nya siapa ya. Hihihi

Sekarang, saya nggak mau nulis tentang selapanan. Saya mau nulis tentang perayaan paling nge-hitz yang dilakukan oleh orang-orang seumuran saya, yaitu nikahan. Eh, nggak juga ding. Lebih tepatnya, kondangan.


***

Kebetulan, hari ini saya diajak kondangan oleh kakak saya. Karena saya lagi pengen makan enak, dandan cantik, dan melihat-lihat dekorasi dan properti resepsi, maka saya pun dengan semangat mbonceng kakak saya ke lokasi resepsi. Mempelai pria nya adalah teman SD kakak saya. Acara hari ini merupakan ngunduh mantu, yang tentu saja, dilaksanakan oleh pihak mempelai pria.

Saya senang datang ke kondangan. Kalau ayah saya dapet undangan dan saya diajak, saya sering ikut datang. Setiap kondangan yang saya punya niat yang berbeda. Niat saya :
1) Nggak peduli siapa yang nikah, yang penting lokasinya.
2) Nggak peduli lokasinya di mana (asal terjangkau), yang penting siapa yang nikah.

Yang nomor satu itu lebih sering saya alami karena teman-teman saya yang nikah sebenarnya masih sedikit sih, jadi niat nomor dua masih bisa saya hitung dengan jari tangan kanan. Yang bilang "Udah banyak yang nikah ya," itu nggak sadar kalau satu angkatan ada 200 orang dan nggak ada 10% yang udah nikah :p

Kenapa saya mementingkan lokasi? Karena biasanya saya penasaran sama dekorasi resepsinya. Di gedung yang nggak terlalu luas, ya mungkin gitu-gitu saja. Di gedung yang terkenal luas, kadang dekorasinya bisa lebih kreatif. Nah, kalau nggak di gedung? Wah, ini...



It was so lovely!

Cuacanya sedang bersahabat, walau panas tapi ada beberapa kipas angin pendingin (yang kalau muter juga nyemburin titik-titik air itu) yang tersebar di beberapa titik lokasi. Dekorasi lumayan, tidak terlalu istimewa dengan resepsi yang sering dijumpai di gedung. Tapi ini unyu banget karena ada beberapa ayunan dan kandang burung yang ikut didekorasi.

Selama kakak saya reunian dengan teman-teman SD nya, saya duduk di salah satu kursi yang tersedia. Kursi yang saya pilih ada di bawah pohon rindang, yang kata kakak saya kemungkinan pohon kelengkeng (tapi nggak yakin deh haha). Saya pun menikmati sajian sambil melihat-lihat suasana resepsi. Saat sudah mau pulang, saya pinjam hape kakak saya dan saya...foto-foto. Hehehe. Bukan foto narsis seperti biasanya saja, tapi saya foto lokasinya juga. Kakak saya sempet ngatain kalau saya kayak turis di tempat wisata aja. Hehehe. Habiiiis, nggak tahan sih liat tempat yang bagus gini :D

Dari semuanya, yang bikin saya jatuh cinta adalah pohon nya.


Majestic! Bikin gemes! Mau dooong resepsi di sana! >.<

Ngomong-ngomong, untuk yang tahu itu pohon apa, harap kasih tahu saya. Hehe.

Walau kaki dan punggung tangan kerasa gosong, tapi tadi saya happy sekali. Melihat hijau-hijauan yang asli dan orang-orang dengan anggunnya menghabiskan waktu di kebun ini, rasanya optimis bahwa manusia dan alam bisa kok berbaikan lagi. Hehehe   

Selamat menikah, Mbak Yurike dan Mas Chiro! Have a great adventure as a one new family! Semoga bahagia selalu!




Sejak ikut les renang pas jaman SD dulu, saya jadi suka olah raga yang satu ini. Banyak gerak tapi nggak kepanasan lha wong geraknya di air. Sehabis berenang pun badan langsung seger. Segernya dobel, dari olah raga dan dari berendam di kolam.

Dulu pas les renang di Tirta Sari, saya gabung dengan klub yang namanya Dolphin. Masih inget banget, kartu tanda les nya warnanya ijo daun dan ada gambar lumba-lumba di sampulnya. Lupa kenapa tiba-tiba saya bisa les renang gitu, kayaknya sih ikut-ikutan temen komplek. Mungkin karena pas dia les renang terus saya kesepian nggak ada temen mainnya sore-sore, jadi minta di les-in berenang juga. Waktu itu saya masih kelas 3-4 SD.

SD les berenang, SMP nggak pernah berenang, terus SMA kadang-kadang berenang sama kakak. Setelah bertahun-tahun kuliah dan belum lulus juga, sekarang saya bertekad untuk rutin berenang. Kangen sih, dasarnya suka berenang. Sekalian mau ngesehatin badan yang nggak pernah olah raga ini.

Masalahnya cewek-cewek berjilbab macam saya, kalau berenang harus di kolam renang khusus cewek. Mungkin ada sih, yang nyaman-nyaman aja pake baju renang serba tertutup di kolam renang umum, tapi saya sih kurang nyaman. Berhubung dengan pakaian renang saya yang masih seksi terbuka dan saya masih suka sama baju renang ini, saya belum punya niat untuk beli baju renang muslimah. Mulailah pencarian kolam renang di Jogja yang ada jadwal khusus ceweknya.


Salsabiela


Pas SMA saya kadang-kadang ke sini sama kakak perempuan saya. Tempatnya jadi satu sama SD Budi Mulia di dekat UPN sana. Maaf, nggak hapal alamat lengkapnya hehe. Ancer-ancernya, perempatan UPN ke selatan, ikutin jalan, nanti di kiri jalan ada SD Budi Mulia. Masuk aja, parkir di tempat parkir dengan rapi, terus masuk ke gedung paling timur. Ada tulisannya kok.

Ini jadwal jam khusus cewek seinget saya, di sana ada jadwalnya kok kalau mau survey dulu. Tanya aja sama yang jaga loket, nanti biasanya dikasih kertas jadwal.
Senin    14.30 - 20.00 WIB
Rabu     15.00 - 20.00 WIB
Kamis   16.00 - 20.00 WIB
Jumat    11.00 - 16.00 WIB

Alas kaki harus dilepas. Jadi di dalem beneran bersih.
Ada rak buat sandal/sepatu.

Enaknya di Salsabila itu murah. Tiket masuk buat umum Rp 12.000,-, mahasiswa Rp 8.000,-  dan anak-anak Rp 6.000,-. Tempatnya bersih, saya suka saya suka! :D
Kalau pas jam khusus cewek bisa pake tempat bilas cowok, jadi banyak deh tempat bilasnya.

Air nya juga lumayan. Lumayan bikin mata perih. Nggak ding, ya untung-untungan aja sih, habis dikuras atau enggak, soalnya dikurasnya setiap lima hari sekali. Tapi tetep terasa bersih kok, kolam renang mana sih yang nggak pake antiseptik. Jadi untuk lebih aman, jangan lupa pake kacamata berenang ya. Kalau nggak punya, di sini bisa nyewa kacamata berenang dengan harga Rp 3.000,-. Bisa nyewa baju renang juga, soalnya di sini nggak boleh berenang selain pake baju renang ya. Kalau nekat, nanti didatengin mbak-mbak yang jaga. Hehehe


Kenapa sih, nggak boleh berenang pake kaos biasa?

Setelah saya googling dan baca beberapa artikel, baju dari bahan katun bisa menyerap zat kaporit yang biasa digunakan di kolam renang sebagai antiseptik. Kaporit yang terserap baju katun bisa menggerus permukaan kulit kita dan bikin kulit jadi kasar dan kering. Selain itu, serat-serat katun bisa menyumbat filter dan pompa kolam renang. Kalau sering tersumbat, perawatan kolam renang bisa lebih ribet, menghabiskan lebih banyak waktu, tenaga, dan biaya. Nah, bahan baju renang biasanya kan lycra atau spandex, bahan tersebut nggak menyerap kaporit dan seratnya nggak mudah terurai. Selain itu, bahan ini bisa melindungi kulit dari sinar UV lho :D

*maafkan kalau ada info yang salah, soalnya cuma baca artikel populer, bukan ilmiah*

Naaah, jadi buat kalian yang bandel tetep pake kaos katun buat berenang, pertimbangkan juga akibatnya buat kulit kamu dan pihak manajemen kolam renang ya. Kasihan lho, kita udah nikmatin servis nya tapi kita nggak ngikutin peraturannya.  



Yak. Kembali ke Salsabila.

Nggak enaknya Salsabila adalah RAME BANGET. Beneran. 11-12 ramenya sama butiran cendol bercampur dengan santan, air, dan gula jawa di gelas kaca di tengah panas teriknya matahari. Jadi ya, kalau pas rame banget, cuma bisa renang impit-impitan aja. Belum lagi kalau banyak kimcil cewek-cewek yang cuma beremdam doang, nggak berenang, haha-hihi, atau malah foto-foto di kolam dengan kedalaman yang paling dalam (2 meter). Ngganggu orang yang niatnya memang berenang karena mereka menjajah tempat menclok cukup banyak. Hih. Saya cuma bisa cemberut.

Apalagi kolam renang Salsabila tidak terlalu luas. Nggak tahu sih, tepatnya berapa meter kubik, tapi yang jelas ya nggak luas. Kalau di sini, karena relatif ramai, cuma bisa berenang dari sisi satu ke sisi lain yang mengikuti sisi kolam yang pendek. Karena kolam ini kecil, jadi pas badan baru saja mendapatkan ritme renang yang pas, eh, udah kena tembok sisi satunya. Jadinya, ya. Begitulah.

Salsabila ini ada kantin dan musholanya. Walau sempit, tapi lumayan bersih.


Depok Sport Center (DSC)

Saya baru aja ke sini kemarin hari Jumat. Dulu pernah ke sini juga, tapi udah bertahun-tahun yang lalu. Mikirnya sih, karena udah lama nggak ke sini sekalian liat, ada yang berubah nggak. Harapannya, semakin bagus. Kenyataannya, engkau masih... seperti yang dulu... *let' sing along!*

Di DSC, ada tiga kolam. Kolam outdoor, kolam indoor, dan kolam indoor anak. Nah, untuk jam khusus cewek hanya berlaku di kolam indoor. Jadwalnya hari Kamis, Jumat, Sabtu, all day! Jadi nggak usah mikir jamnya, yang jelas harinya aja. Biaya masuknya kalau weekdays Rp 12.000,- kalau weekend kayaknya lebih mahal, tapi nggak tahu berapa hehe.

Kolamnya luas. Kalau boleh lebay, saya tulisnya luaaaaas. Kenapa saya tulis demikian, karena dibandingkan dengan orang yang berenang di dalamnya, serasa kolam renang pribadi.



Lihat ada garis biru untuk membatasi jalur? Kira-kira ada 3 atau 4 jalur gitu. Luas kan?



Nggak tahu ya, mungkin karena waktu saya ke sana itu hari Jumat jam 12-an atau emang biasanya sepi-sepi aja. Waktu saya ke sana, ada segerombolan anak SMA sejumlah 6 orang dan ibu-ibu 1 orang. Jadi kolam seluas itu isinya cuma ber-7. Wangun ra? 

Tempat duduknya sempit sekali dan hanya tersedia di salah satu sisi tembok.

Saya sih seneng kalau sepi begini. Tapi...di sini agak...horor. Ini menurut saya aja sih. Jadi gini, setelah anak-ana SMA itu mentas, ibu-ibu itu ngajak ngomong saya,
"Wah, mbak, tinggal kita berdua", sambil senyum ramah.
"Eh? Iya bu, hehe"
"Sendirian tho mbaknya?"
"Iya, hehe"
*lanjut berenang*
Setelah beberapa saat, ibu-ibu tersebut juga mentas. Saya udah agak deg-degan berenang sendirian. Tapi ya...saya tetep berenang bolak-balik saat mereka bilas dan masih duduk-duduk di pinggir kolam. Setelah mereka pergi dan ibu-ibu tadi di ruang bilas, saya pun mentas.

Akhirnya saya sendirian di kolam yang agak creepy ini.

Kenapa aku bilang agak creepy?

Suasananya hening. Nggak ada musik. Nggak ada lampu, penerangan cuma dari matahari di salah satu sisi dinding. Nggak ada petugas yang jaga.



Selain itu, area kolam indoor ini tidak terlalu bersih. Keramik di pinggir-pinggir kolam terlihat kotor. Tahu kan, kayak sedikit berlumut tapi kering, kesannya kotor gitu. Ada beberapa keramik yang dibongkar dan ada selangnya gitu, mungkin itu pompa atau apa saya juga kurang paham. Airnya dingin. Tapi tidak terlalu bening dan ada serangga atau daun kering mengambang gitu, pokoknya item-item nggak jelas, cuma dikit sih, tapi gara-gara itu saya nggak bisa berenang dengan gaya bebas, takut itu masuk mulut pas ngambil nafas. Terus tangga untuk naik dan nyemplung kolam cuma satu, kecil pula, di pojokkan. Nek nanti ada apa-apa piye? Mana badanku berat, nggak bisa langsung naik tanpa tangga :v

Sebenarnya, saya ini yang terlalu paranoid sih.

Aniway, saya pun masuk ke ruang ganti dan ketemu ibu-ibu tadi.

"Eh, udah selesai mbak?", sapanya.
"Iya, udah bu, hehe"
"Saya duluan ya,"
"Oh iya Bu..."

*saya heha-hehe melulu ya*

Saya pun bilas. Di ruang ini ada empat bilik ganti yang nggak tinggi, tingginya cuma sekepala aja. Terus ada lemari loker, bisa naruh baju atau peralatan mandi di situ. Nah di depan lemari ini ada tembok dengan empat atau lima shower. Temboknya nggak sepenuhnya menutup, tapi atapnya tinggi. Showernya nggak dipisah di bilik-bilik, melainkan satu deret di salah satu sisi tembok. Agak was-was sih. Saya bilas sambil ngecekin atas terus atau noleh-noleh paranoid.
Karena tempat bilasnya di ruang terbuka, saya bilas dengan baju renang utuh. Nggak penak, saudari-saudari. Rasanya nggak bersih. Di beberapa titik lantai ada genangan air yang mungkin dari atap bocor atau apa. Kalau saya sih risih. Setelah ganti baju, saya pun kembali ke pinggir kolam untuk mengeringkan rambut.

Sehabis pake sunblock, karena saya naik motor dan menempuh 30 menit perjalanan dari sini ke rumah, saya mendengar suara orang dateng.

Ada mbak-mbak berdua masuk. Beberapa menit kemudian, ada dua mbak-mbak dateng lagi. Tahu-tahu musik berkumandang di seluruh area kolam.

Hmm.

Saya pun menyesal udah mentas duluan, padahal  belum puas berenang. Aargh! Dasar porno, eh, parno!

Kemudian, saya menyadari hal yang nggak penting. Handuk saya merk nya BigBang. *Wow, fantastic, baby!*


Ya sudah lah. Kalau mau berenang di sini harus ngajak temen nih biar nggak paranoid. *lempar HT ke Wanda sama Hita*

Hmmm besok renang di mana ya? Kalau awal minggu udah pasti cuma bisa di Salsabila, kalau weekend ya galau deh. Kedua kolam renang di atas ada kelebihan dan kekurangannya maisng-masing. Ah. Galau. Saya cuma dua kolam renang itu yang aku tahu ada jam khusus ceweknya. Kalau ada yang tahu tempat lain, kasih tahu saya ya :D

Berenang Yuk!

by on May 31, 2014
Sejak ikut les renang pas jaman SD dulu, saya jadi suka olah raga yang satu ini. Banyak gerak tapi nggak kepanasan lha wong geraknya di air....
Pagi itu aku ndomblong sendirian di depan gedung sebelah barat. Setelah membantu seorang teman mengerjakan tugasnya, aku kembali duduk-duduk sambil celingukan. Anak-anak angkatan 2009 sebagian besar ada kelas jam 10.30, jadi wajar kalau aku nggak ada temen ngobrol. Sudoku di salah satu surat kabar jadi pelampiasan. Tapi sayang, aku gagal menyelesaikannya dan itu membuatku frustrasi.

Meliriklah aku ke salah satu bilik di gedung tersebut. Pintunya sengaja aku buka sekitar setengah jam yang lalu, biar udara pengap di dalamnya tergantikan dengan udara yang lebih segar. Sekarang ada beberapa orang yang duduk melingkar di dalamnya. Tidak lama kemudian beberapa  orang masuk satu persatu dan bergabung. Pintu pun ditutup.

Sedih rasanya, seperti kehilangan tempat tinggal. Semakin sedih pula ketika aku teringat bahwa ada beberapa urusan yang belum aku selesaikan di bilik tersebut. Aku menyesal tidak dapat melaksanakan tugasku dengan baik. Hasil dari pekerjaanku jauh dari kata baik. Mengecewakan. Aku telah meninggalkan seonggok sampah yang penuh dengan penyesalan.

Aku pun mengirim pesan cinta kepada mantan pimpinan. Penyesalan selalu datang belakangan, itu yang aku sayangkan. Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal? Kenapa aku terlalu sibuk dengan kepentinganku sendiri? Sekarang perbaiki, katanya. Sebisa mungkin. Oke, aku akan berusaha.

Mereka bilang kekeluargaan. Namun kami tidak merasa seperti keluarga. Setidaknya aku tidak merasa seperti keluarga. Kekeluargaan sepertinya hanya alasan untuk tidak disiplin dan bekerja semaunya.  Keluarga semestinya kompak. Keluarga itu mendengarkan, berbagi, memahami, dan menerima. Itu idealnya.

Perlu diingat, tidak semua keluarga ideal. Bisa jadi keluarga yang kami jalani selama satu tahun ini broken home. Aku bingung, kenapa kami bisa seperti ini. Dulu kami rajin berkomunikasi, makan bersama layaknya sebuah keluarga. Aku pun mulai menerima dengan pasrah pekerjaan yang tidak aku sukai itu. Namun sesuatu terjadi. Entah karena bosan atau telah menemukan keluarga lain yang lebih menarik. Lalu kami jadi seperti ini. Jarang berbincang. Pergi dengan urusan masing-masing.

Manis di awal. Pahit akhirnya.

Aku tidak berkata bahwa aku tidak bersalah. Bahkan bisa dikatakan aku yang memiliki kesalahan yang paling fatal. Hanya pekerjaanku yang belum beres. Sekarang aku merasa seperti hantu yang kelayapan karena punya unfinished business.

Kalau boleh membela diri lagi, aku akan membawa mereka ke hari di mana aku menolak pekerjaan ini. Bukan karena malas, tapi aku tidak suka birokrasi dan aku sering melakukan prokrastinasi. Mengapa itu bisa luput dari perhatian mereka? Keputusan yang terburu-buru, ku rasa. Opsi yang tidak tersedia dengan imbang. Pekerjaan itu pun aku pikul dengan terpaksa.

Sekarang bisa dilihat hasilnya. Aku mengecewakan banyak orang. Aku mengecewakan diri sendiri. Aku tidak total. Aku terlalu sibuk membenci pekerjaanku sehingga pekerjaan itu sendiri tidak terurus. Udah lah. Pembelaan yang tidak penting, sebenarnya. Pembelaan yang hanya menunjukkan betapa lemah dan sombongnya aku. Padahal akhirnya ya…menyesal kan.

Sekarang sedang aku usahakan. Aku kembali menyentuh berkas yang terabaikan.

Semoga cepat selesai.

Aku nggak mau jadi hantu penasaran.

21 Februari 2012

by on February 24, 2012
Pagi itu aku ndomblong sendirian di depan gedung sebelah barat. Setelah membantu seorang teman mengerjakan tugasnya, aku kembali duduk-dud...
Beberapa anak ngumpul di depan UKP dan gedung B sambil curi-curi pandang ke arah taman Psikologi. Cuaca siang itu mendung, semendung hatiku yang waktu itu habis ujian Psikologi Belajar dan belum selesai belajar Kriminologi. Aku ditemani Hita (which I call Hicul) berjalan menuju kantin, mau nggak mau lewat pinggir taman Psikologi.


Dan tiba-tiba…


Hicul : Eh, Lei…itu artis bukan sih? Kayaknya pernah liat…


Deva (yang kebetulan ketemu di depan pos satpam) : Iya, itu si Rio Dewanto~


Aku : Ooh..bintang iklan Simpati itu ya? *dalam hati : kan itu namanya Sule, bukan Rio #salahiklan* Ngapain dia di sini?


Deva : Itu tadi ada pacarnya, Atika, Atika-nya lagi konsultasi kali di UKP.


Hicul and me : *manggut-manggut*


Hicul : Eh, lewat situ yuk, mau lihat dia dari deket. Hehe


Maka lewat depan Rio Dewanto lah kami menuju ke kantin.


Beberapa orang ada yang biasa aja saat ketemu artis. Ada juga yang cuma heboh kalau ketemu sama idolanya, kalau ketemu sama artis yang nggak diidolain ya biasa aja. Beberapa orang lain selalu heboh kalau ketemu siapa aja, yang penting terkenal. Beberapa orang lain heboh setiap ngeliat cowok ganteng, nggak peduli artis atau tukang parkir. Yang gawat sih, orang yang hebohnya  sampe lupa umur, lupa pacar, atau lupa pesanan soto ayam dari seorang gadis yang lagi galau Krimonologi.


Saat Rio Dewanto mampir ke kantin Psikolgi, saat itu pula lah ibu-ibu kantin berubah menjadi genit.



Ibu kantin 1     : Mas, boleh dong jadi asistennya~  Tapi cari yang muda-muda ya??
 
Ibu kantin 2    : Kurang pedes nggak, Mas? *senyum-senyum*


Ibu kantin 1     : Wong wis tua ningo yo isih seneng ndelok wong bagus! *ketawa genit*



Ini ibu kantin lhoh ya, bukan saya.

Well, nothing I could do about it. Ibu-ibu kantin jarang terhibur di biliknya masing-masing, kunjungan artis tersebut merupakan hal yang baik ;)

Sekilas Info(tainment)

by on November 16, 2011
Beberapa anak ngumpul di depan UKP dan gedung B sambil curi-curi pandang ke arah taman Psikologi. Cuaca siang itu mendung, semendung hatiku...