“Perkenalkan, nama saya Renata, biasa dipanggil Re, dan saya- ”
“Jomblo!”
Tawa berderai dari segala penjuru kelas. Kepala yang menoleh ke arahku kini bertambah. Dengan tanganku aku menyenggol lengan Aji. Dia sedang mencoret-coret buku catatannya sambil cengengesan, berusaha menyembunyikan fakta bahwa dialah yang baru saja berteriak di sela-sela perkenalanku.
“..dan saya dari Jogja,” lanjutku. Aku pun segera duduk. Aku tidak terlalu mempermasalahkan status jomblo ku, tapi bukan berarti aku tidak malu menjadi bahan tertawaan gara-gara itu. Hih. Cowok sialan!

***

Saat pengumuman penerimaan mahasiswa dulu, aku iseng mencari-cari nama yang aku kenal yang masuk di jurusan yang sama denganku. Ada beberapa nama yang aku kenal dari SMP dan hanya satu nama dari SMA ku selain aku.
Aji Purnama Putra.
Awalnya aku tidak peduli. Waktu SMA pun kami tidak pernah saling bicara. Aku hanya tahu dia cukup populer di sekolah. Tampan, walaupun preman. Jago olahraga, tapi juga jago berkelahi. Sebenarnya aku nggak terlalu tahu sih, aku nggak ngikutin gosip di sekolah dulu. Yang aku nggak habis pikir, dia tetap menjadi kesayangan guru. Mungkin dia juga nggak bodoh.
Suatu hari saat ospek masih berlangsung, salah seorang anggota kelompokku, Vani, jatuh pingsan ketika jam baris berbaris. Kebetulan aku sedang berada di belakangnya sehingga aku yang menjadi sandarannya ketika terjatuh. Bersama kakak angkatan, aku ikut menemaninya ke ruang kesehatan.
Setelah memberikan keterangan bahwa sebelumnya Vani mengeluh pusing tapi tidak mau melapor, aku pun kembali ke lapangan. Ternyata jam baris berbaris telah usai dan mahasiswa-mahasiswa kembali ke aula di lantai tiga. Ada beberapa jalan untuk menuju aula lantai 3. Lewat tangga di yang berada di bagian barat gedung utama, tangga di tengah-tengah atrium, dan tangga di bagian timur gedung utama. Aku memilih melalui tangga di bagian timur karena tangga tersebut yang jarang dilalui orang. Dengan atribut ospek yang konyol, aku nggak mau terlihat wara-wiri sendirian.
Untuk menuju tangga di bagian timur gedung, aku harus melewati lorong yang bersebelahan dengan gudang. Di depan gudang yang terkunci rapat, terdapat tumpukan kursi dan meja yang sudah tidak terpakai lagi. Saat aku mencapai tengah tangga, terlihat dari atas di salah satu pojok, tersembunyi di balik tumpukan kursi, seseorang sedang duduk selonjoran dengan atribut yang sama denganku.
“Psssst!”, bisikku memanggilnya.
Kepala yang tadinya menunduk, seketika mendongak ke arahku. Wajah kecoklatan dengan rahang yang tampak kuat itu langsung aku kenali.
 “Ngapain kamu di situ?!”, bisikku.
Wajahnya yang tadinya terkejut menjadi tenang. “Oh, kamu.”
Aku mengerutkan kening sambil menatapnya tidak percaya. Bisa-bisanya dia bolos ospek??
“Aku lagi baca komik. Mau ikutan?”
What?!
“Yang bener aja, kita lagi ospek!”, ujarku sambil tetap berbisik, takut jika ada kakak angatan yang mendengar. “Kamu mau dihukum? Kalau dihukum, kamu nggak dapet sertifikat ospek. Kalau nggak dapet sertifikat ospek, kamu nggak bisa lulus!”
“Ck. Bawel,” ucapnya sambil kembali menundukkan kepalanya.
Kenapa sih, cowok ini?
“Pssst!!”, bisikku lagi, memanggilnya.
“Kamu nggak mau malu-maluin nama SMA kita kan?? Ayo ke aula!”, ajakku mulai panik.
Dia tidak lagi mendongak. Dia malah melanjutkan bacaannya seolah-olah aku sudah pergi.
Tiba-tiba saja, tanganku terasa bergerak sendiri. Aku melepaskan kalung papan nama dari kardus dan  melemparkannya.
Papan namaku mendarat tepat di kepalanya. Aji terkejut dan dia pun langsung berdiri. Aku sendiri terkejut kenapa aku melakukannya. Mungkin karena panas. Atau lelah. Atau frustrasi dengan tugas-tugas ospek yang nggak masuk akal. Atau hanya kesal karena aku dibilang bawel.
“HEH!!” bentaknya tiba-tiba.
Aku terkejut karena mendengar suaranya yang lantang. Sebelum aku sempat berkata-kata, terdengar suara dari ujung lorong.
“Siapa itu?”
Seorang kakak angkatan berjalan menuju kami. Kuperhatikan badge di dadanya. Roni. Komisi Disiplin.
Yak. Mampus.
“Kenapa kalian nggak di aula?” ucapnya dengan suara dingin.
Dia menatapku dan Aji bergantian. Aji masih melotot, tapi tidak mengatakan apa-apa.
“A, anu kak,” ucapku terbata. “Tadi saya nganterin Vani ke ruang kesehatan, terus mau balik ke aula.”
Dia melipat tangannya. Tatapannya beralih ke Aji.
“Kamu. Ngapain di situ?”
Aji membuka mulutnya, tapi aku menyelanya.
“Aji tadi ngambilin papan namaku yang jatuh, Kak. Nggak sengaja tadi jatuh ke situ,” ujarku cepat-cepat.
Aji melirikku. Dia masih terdiam.
Kakak angkatan, yang sebenarnya ganteng walaupun serem itu, tetap menatap kami dengan curiga.
“Kenapa papan nama yang kamu kalungin bisa jatuh?”
“Mm..karena tadi saya lepas untuk...mm..untuk ngipasin Vani kak, yang tadi pingsan”, kataku terbata.
“Ya sudah. Segera masuk aula. Sekarang.”
Aku masih terpaku di tempat. Aku tidak percaya bahwa aku lolos semudah itu. Beneran nih? Boleh lari ke aula sekalian?
“Ayo!!”, gertaknya.
Aji dengan perlahan keluar dari tempat persembunyiannya dan menyusulku. Kami saling lirik dan melanjutkan berjalan ke aula beriringan, mas-mas  KomDis tersebut di belakang kami.
“Nih”, kata Aji sambil mengembalikan papan namaku.
“Maaf ya,” bisikku.
“...”
"Eh, tunggu. Kenapa aku harus minta maaf? Kan kamu yang ngatain aku bawel!"
"..."
“Duh, nggak enak udah bohong...”
"..."
"Untung kita nggak dihukum..."
"..."
“Nggak akan ketahuan kan ya?"
“Ck! Bawel!”
Seketika aku menoleh untuk protes. Tak aku sangka, cowok berparas tampan itu malah cengengesan. Ih! Apaan sih!

***

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mencoba nge-post cerita biar ada desakan untuk dilanjutkan. Mari kita lihat, apakah ini berhasil aku tamatkan atau tidak.
Hahaha.
Kepanjangankah? Kurang deksriptif kah?
Mohon komentarnya ya :D

Cinta-cintaan (1)

by on June 04, 2014
“Perkenalkan, nama saya Renata, biasa dipanggil Re, dan saya- ” “Jomblo!” Tawa berderai dari segala penjuru kelas. Kepala yang menole...
2009

Seharusnya aku tetap menjadi anak yang baik, seperti yang orang-orang pikirkan.
Seharusnya aku tetap menjadi anak yang baik, seperti yang aku tunjukkan ke orang-orang.

Seharusnya aku tenang.

Aku memang tenang. Bicaraku tenang. Langkahku tenang. Wajahku sangat tenang. Tapi hatiku tidak.

Jantungku berdegup kencang. Aku mempertimbangkan. Apa aku takut? Apa aku terlalu bersemangat?

Matamu seperti menyetujui apa yang akan aku lakukan. Haha. Mungkin aku berdelusi. Mana mungkin aku berani menatap matamu. Apa yang aku lakukan, aku yakin kamu pun tidak mungkin peduli.

Apapun itu, kehadiranmu cukup menenangkanku.

Tenang. Kan ada kamu. Kamu ahlinya.

Baiklah. Ajari aku.
Apa kita harus bersulang?

Some Night

by on June 03, 2014
2009 Seharusnya aku tetap menjadi anak yang baik, seperti yang orang-orang pikirkan. Seharusnya aku tetap menjadi anak yang baik, se...

This post may contain spoilers, tapi sebenarnya enggak juga sih. Jadi yang belum tahu ceritanya/nonton GoT episode 8 season 4, “The Mountain and The Viper” jangan mencaci-maki saya setelah baca. Hehehe
 
Karena saya nggak dapet wangsit genius hari ini, maka saya nulis dikit aja ah.

Lupakan kepenatan dengan kegiatan rutinmu yang dimulai di hari Senin, karena di hari Senin kita nonton Game of Thrones (GoT)!  

Yaaay~!

Sebenarnya tadi pagi saya sudah berencana untuk segera download dan nonton episode terbarunya. Tapi ternyata saya malah lupa dan baru ingat setelah chatting sama temen tadi sore hahaha. Padahal episode ini sudah saya tunggu-tunggu dari dua minggu lalu. Series ini memang series mingguan, tapi karena hari Senin minggu lalu di Amrik sono lagi libur merayakan Memorial Day, jadi series ini ikutan libur.

Game Of Thrones ini merupakan tv series berdasarkan seri novel karangan George R. R. Martin yang judulnya A Song of Ice and Fire. Tv series nya disiarkan di HBO. Untuk lengkapnya klik aja di sini ya. Maaf banget tidak saya review lebih lanjut hehe. Penasaran? Saya punya series lengkapnya kalau mau ngopi hihihi

Berhubung saya nggak baca novelnya, otomatis saya nggak tau ceritanya gimana sebelum nonton. Novel nya belum ada yang nerjemahin ke bahasa Indonesia, saya agak males baca novel yang bahasa Inggris-nya kayak jaman medieval gini. Nonton seriesnya aja bisa buka kamus atau googling idiom hahaha. Nggak apa sebenarnya, sambil belajar :D

Oke. Saya mau nonton dulu ya. Saya sengaja nunggu malam sekalian biar nontonnya semakin syahdu. Saya sudah berhati-hati untuk tidak kena spoiler, tapi apa daya yang baca novelnya juga banyak. Saya pun kadang biar nggak terlalu shock, dulu waktu awal nonton saya searching tentang seorang tokoh yang mati, nah saya cari tahu dia mati di episode berapa biar hati saya siap dan nggak terpukul :'

Untuk episode ini tanpa sengaja saya kena spoiler. Walau sudah tahu siapa yang mati berikutnya dan kata temen habis nonton ini dia sakit hati, nggak apa deh. Pasti masih seru.

Oke. Semoga hati saya nggak sakit-sakit amat.

Episode 8, bring it on!




*52 menit 20 detik kemudian...*

Okay. Saya sedih. Hati saya sakit. Saya resmi pengen nangis. Nggak tega melihat adegan yang begitu gore-nya, darahnya yang menggenang, kepalanya yang....hwaaaaaaaaaa kenapa dirimu harus berakhir seperti itu, wahai Om-Paling-Ganteng-Seksi-dan-Eksotis-di-GoT?? :((((

Kira-kira ekspresi saya di ending begini nih.



Haahh.

Aku kudu fangirling sopo saiki?

Wah, saya masih terkejut. Bagi yang nggak bisa lihat darah-darahan, saya sarankan tutup mata atau nggak usah liat ending series ini sama sekali ya.

Jempol tujuh deh, buat orang-orang yang bikin visual effect nya. Kelihatan nyata banget. Apik. Tepuk tangan dulu!



Nggak sabar, minggu depan ceritanya gimana ya? Nonton GoT tuh kayak stalking gebetan. Udah tahu bakalan nyesek, tapi tetep aja penasaran.


Kamu pernah, tiba-tiba rasanya ingin berbuat sesuatu yang gila? Seperti di suatu siang, kamu sedang bersenda gurau dengan teman-temanmu dan tiba-tiba kamu ingin mencium salah satu dari mereka? Tidak ada perasaan apapun sebelumnya. Hanya saja, tiba-tiba ketika kalian sedang megobrol, seorang temanmu tanpa sengaja mendekatkan wajahnya ke wajahmu dan seperti petir di siang bolong, di kepalamu terlintas pikiran, “Kayaknya kalau aku cium pipinya bakal seru deh,”.

Ugh. Kameranya lagi nggak tahu ke mana. Pardon my bad doodle.


Kamu nggak tahu apa yang merasukimu waktu itu. Kamu juga sedang tidak jatuh cinta kepada orang tersebut. Kamu memang nyaman berada di dekatnya, tentu, tapi hanya sebatas teman bicara dan teman berbagi tawa. Kamu sama sekali tidak melihat tanda-tanda bahwa kamu ingin menjadi kekasihnya.

Lalu, apa yang membuatmu berpikir seperti itu?

***

Aku punya teori. Aku rasa yang sedang kamu alami adalah tantangan untuk meninggalkan zona nyamanmu menuju zona yang kamu bahkan tidak tahu ada. Resiko mencium pipinya seolah-olah mengundangmu untuk melakukannya. Apa yang kira-kira akan terjadi setelah kamu menciumnya?

Skenario A
                Mukamu memerah. Dia tersentak kaget. Teman-temanmu pun ikut terkejut. Dia melihatmu seolah-olah kamu punya seribu bola mata di dahimu. Seolah kamu gila. Lalu kamu ingin berlari keluar, berteriak, dan memukuli kepalamu sendiri, membuktikan kepada dunia bahwa pikirannya benar. Kamu gila. Lalu kamu tidak pernah mendengar apa pun dari dia lagi.

Skenario B
                Mukamu memerah. Tak disangka, mukanya juga memerah. Teman-teman mu terdiam. Kalian berpandangan grogi. Secara bersamaan kalian membuang tatapan. Lalu kalian pun pulang. Selanjutnya, dia tidak pernah menghubungimu lagi atau membicarakan hal itu dengan mu. Lalu teman-temanmu mulai bergosip di belakangmu, menertawaimu, tidak mempercayai apa yang kamu lakukan, dan menebak apa yang terjadi diantara kalian berdua yang kamu sendiri tidak mengerti.

Skenario C
                Mukamu datar. Walaupun baru saja kamu melakukan hal yang paling gila di hidupmu, kamu tidak merasakan apa-apa. Dia hanya melihatmu sekilas, namun tidak mengatakan apa-apa. Teman- temanmu ternyata tidak ada yang sadar. Lalu semuanya kembali seperti biasa. Seperti apa yang kamu perdebatkan di kepalamu itu tidak berarti apa-apa.


Masih ada skenario D, E, F, G dan seterusnya yang kamu sendiri tidak bisa menyangka apa yang akan terjadi. Salah satu dari kemungkinan skenario adalah kalian berdua tertawa, menyadari kalau saling jatuh cinta, dan bahagia selamanya. Bisa saja, di skenario lain, kalian berdua tertawa tapi hanya kamu yang jatuh cinta. Kamu nggak pernah tahu.

Kamu nggak akan pernah tahu apa yang terjadi sebelum kamu melakukannya. Kamu cuma bisa mereka-reka hal yang tidak akan terjadi, karena kamu terlalu sibuk memperkirakan semuanya sehingga kamu nggak sempat melakukannya.
Lalu kamu pun tidak melakukannya. Kamu hanya menganggap itu sebagai ‘kilat gila’ dan seperti pikiran-pikiran gilamu yang lain, kemu kembali menenggelamkannya dalam-dalam. Berharap kamu tidak akan merasakannya lagi, karena kamu tahu, kamu hanya merasakannya satu kali.

Momen tersebut pun terlewat. Kamu kembali ke zona yang telah kamu kuasai selama ini. Kamu merasa biasa-biasa saja di zona nyamanmu yang biasa-biasa saja.

Tapi ternyata, walau tenggelam beratus-ratus kilometer di bawah laut hati mu sana, kamu masih tahu bahwa itu ada.

Lalu kamu terhantui.

Lalu kejadian itu terbawa mimpi.

Lalu kamu terbangun dengan perasaan yang sama ketika ‘kilat gila’ tersebut menyambarmu.


Nah, apa yang akan kamu lakukan sekarang?

Menuliskannya di blog pribadimu?

Kilat Gila

by on June 01, 2014
Kamu pernah, tiba-tiba rasanya ingin berbuat sesuatu yang gila? Seperti di suatu siang, kamu sedang bersenda gurau dengan teman-temanmu da...
Hashtag untuk kegiatan menulis selama 35 hari ini masih didiskusikan oleh teman-teman Padakacarma saat saya mulai menulis post ini. Yang bener gimana sih? Apakah 'selapanan' udah fix hanya menjadi istilah kenduri untuk bayi berumur 35 hari saja? Atau nggak apa kalau kita pakai istilah itu terus nambahin kata 'nulis' biar nggak salah paham? Atau boleh-boleh aja memakai istilah tersebut tapi setelah selesai, kami harus kendurian dan memotong rambut kami masing-masing? Jadi penasaran, ini selesainya pas neton-nya siapa ya. Hihihi

Sekarang, saya nggak mau nulis tentang selapanan. Saya mau nulis tentang perayaan paling nge-hitz yang dilakukan oleh orang-orang seumuran saya, yaitu nikahan. Eh, nggak juga ding. Lebih tepatnya, kondangan.


***

Kebetulan, hari ini saya diajak kondangan oleh kakak saya. Karena saya lagi pengen makan enak, dandan cantik, dan melihat-lihat dekorasi dan properti resepsi, maka saya pun dengan semangat mbonceng kakak saya ke lokasi resepsi. Mempelai pria nya adalah teman SD kakak saya. Acara hari ini merupakan ngunduh mantu, yang tentu saja, dilaksanakan oleh pihak mempelai pria.

Saya senang datang ke kondangan. Kalau ayah saya dapet undangan dan saya diajak, saya sering ikut datang. Setiap kondangan yang saya punya niat yang berbeda. Niat saya :
1) Nggak peduli siapa yang nikah, yang penting lokasinya.
2) Nggak peduli lokasinya di mana (asal terjangkau), yang penting siapa yang nikah.

Yang nomor satu itu lebih sering saya alami karena teman-teman saya yang nikah sebenarnya masih sedikit sih, jadi niat nomor dua masih bisa saya hitung dengan jari tangan kanan. Yang bilang "Udah banyak yang nikah ya," itu nggak sadar kalau satu angkatan ada 200 orang dan nggak ada 10% yang udah nikah :p

Kenapa saya mementingkan lokasi? Karena biasanya saya penasaran sama dekorasi resepsinya. Di gedung yang nggak terlalu luas, ya mungkin gitu-gitu saja. Di gedung yang terkenal luas, kadang dekorasinya bisa lebih kreatif. Nah, kalau nggak di gedung? Wah, ini...



It was so lovely!

Cuacanya sedang bersahabat, walau panas tapi ada beberapa kipas angin pendingin (yang kalau muter juga nyemburin titik-titik air itu) yang tersebar di beberapa titik lokasi. Dekorasi lumayan, tidak terlalu istimewa dengan resepsi yang sering dijumpai di gedung. Tapi ini unyu banget karena ada beberapa ayunan dan kandang burung yang ikut didekorasi.

Selama kakak saya reunian dengan teman-teman SD nya, saya duduk di salah satu kursi yang tersedia. Kursi yang saya pilih ada di bawah pohon rindang, yang kata kakak saya kemungkinan pohon kelengkeng (tapi nggak yakin deh haha). Saya pun menikmati sajian sambil melihat-lihat suasana resepsi. Saat sudah mau pulang, saya pinjam hape kakak saya dan saya...foto-foto. Hehehe. Bukan foto narsis seperti biasanya saja, tapi saya foto lokasinya juga. Kakak saya sempet ngatain kalau saya kayak turis di tempat wisata aja. Hehehe. Habiiiis, nggak tahan sih liat tempat yang bagus gini :D

Dari semuanya, yang bikin saya jatuh cinta adalah pohon nya.


Majestic! Bikin gemes! Mau dooong resepsi di sana! >.<

Ngomong-ngomong, untuk yang tahu itu pohon apa, harap kasih tahu saya. Hehe.

Walau kaki dan punggung tangan kerasa gosong, tapi tadi saya happy sekali. Melihat hijau-hijauan yang asli dan orang-orang dengan anggunnya menghabiskan waktu di kebun ini, rasanya optimis bahwa manusia dan alam bisa kok berbaikan lagi. Hehehe   

Selamat menikah, Mbak Yurike dan Mas Chiro! Have a great adventure as a one new family! Semoga bahagia selalu!




Sejak ikut les renang pas jaman SD dulu, saya jadi suka olah raga yang satu ini. Banyak gerak tapi nggak kepanasan lha wong geraknya di air. Sehabis berenang pun badan langsung seger. Segernya dobel, dari olah raga dan dari berendam di kolam.

Dulu pas les renang di Tirta Sari, saya gabung dengan klub yang namanya Dolphin. Masih inget banget, kartu tanda les nya warnanya ijo daun dan ada gambar lumba-lumba di sampulnya. Lupa kenapa tiba-tiba saya bisa les renang gitu, kayaknya sih ikut-ikutan temen komplek. Mungkin karena pas dia les renang terus saya kesepian nggak ada temen mainnya sore-sore, jadi minta di les-in berenang juga. Waktu itu saya masih kelas 3-4 SD.

SD les berenang, SMP nggak pernah berenang, terus SMA kadang-kadang berenang sama kakak. Setelah bertahun-tahun kuliah dan belum lulus juga, sekarang saya bertekad untuk rutin berenang. Kangen sih, dasarnya suka berenang. Sekalian mau ngesehatin badan yang nggak pernah olah raga ini.

Masalahnya cewek-cewek berjilbab macam saya, kalau berenang harus di kolam renang khusus cewek. Mungkin ada sih, yang nyaman-nyaman aja pake baju renang serba tertutup di kolam renang umum, tapi saya sih kurang nyaman. Berhubung dengan pakaian renang saya yang masih seksi terbuka dan saya masih suka sama baju renang ini, saya belum punya niat untuk beli baju renang muslimah. Mulailah pencarian kolam renang di Jogja yang ada jadwal khusus ceweknya.


Salsabiela


Pas SMA saya kadang-kadang ke sini sama kakak perempuan saya. Tempatnya jadi satu sama SD Budi Mulia di dekat UPN sana. Maaf, nggak hapal alamat lengkapnya hehe. Ancer-ancernya, perempatan UPN ke selatan, ikutin jalan, nanti di kiri jalan ada SD Budi Mulia. Masuk aja, parkir di tempat parkir dengan rapi, terus masuk ke gedung paling timur. Ada tulisannya kok.

Ini jadwal jam khusus cewek seinget saya, di sana ada jadwalnya kok kalau mau survey dulu. Tanya aja sama yang jaga loket, nanti biasanya dikasih kertas jadwal.
Senin    14.30 - 20.00 WIB
Rabu     15.00 - 20.00 WIB
Kamis   16.00 - 20.00 WIB
Jumat    11.00 - 16.00 WIB

Alas kaki harus dilepas. Jadi di dalem beneran bersih.
Ada rak buat sandal/sepatu.

Enaknya di Salsabila itu murah. Tiket masuk buat umum Rp 12.000,-, mahasiswa Rp 8.000,-  dan anak-anak Rp 6.000,-. Tempatnya bersih, saya suka saya suka! :D
Kalau pas jam khusus cewek bisa pake tempat bilas cowok, jadi banyak deh tempat bilasnya.

Air nya juga lumayan. Lumayan bikin mata perih. Nggak ding, ya untung-untungan aja sih, habis dikuras atau enggak, soalnya dikurasnya setiap lima hari sekali. Tapi tetep terasa bersih kok, kolam renang mana sih yang nggak pake antiseptik. Jadi untuk lebih aman, jangan lupa pake kacamata berenang ya. Kalau nggak punya, di sini bisa nyewa kacamata berenang dengan harga Rp 3.000,-. Bisa nyewa baju renang juga, soalnya di sini nggak boleh berenang selain pake baju renang ya. Kalau nekat, nanti didatengin mbak-mbak yang jaga. Hehehe


Kenapa sih, nggak boleh berenang pake kaos biasa?

Setelah saya googling dan baca beberapa artikel, baju dari bahan katun bisa menyerap zat kaporit yang biasa digunakan di kolam renang sebagai antiseptik. Kaporit yang terserap baju katun bisa menggerus permukaan kulit kita dan bikin kulit jadi kasar dan kering. Selain itu, serat-serat katun bisa menyumbat filter dan pompa kolam renang. Kalau sering tersumbat, perawatan kolam renang bisa lebih ribet, menghabiskan lebih banyak waktu, tenaga, dan biaya. Nah, bahan baju renang biasanya kan lycra atau spandex, bahan tersebut nggak menyerap kaporit dan seratnya nggak mudah terurai. Selain itu, bahan ini bisa melindungi kulit dari sinar UV lho :D

*maafkan kalau ada info yang salah, soalnya cuma baca artikel populer, bukan ilmiah*

Naaah, jadi buat kalian yang bandel tetep pake kaos katun buat berenang, pertimbangkan juga akibatnya buat kulit kamu dan pihak manajemen kolam renang ya. Kasihan lho, kita udah nikmatin servis nya tapi kita nggak ngikutin peraturannya.  



Yak. Kembali ke Salsabila.

Nggak enaknya Salsabila adalah RAME BANGET. Beneran. 11-12 ramenya sama butiran cendol bercampur dengan santan, air, dan gula jawa di gelas kaca di tengah panas teriknya matahari. Jadi ya, kalau pas rame banget, cuma bisa renang impit-impitan aja. Belum lagi kalau banyak kimcil cewek-cewek yang cuma beremdam doang, nggak berenang, haha-hihi, atau malah foto-foto di kolam dengan kedalaman yang paling dalam (2 meter). Ngganggu orang yang niatnya memang berenang karena mereka menjajah tempat menclok cukup banyak. Hih. Saya cuma bisa cemberut.

Apalagi kolam renang Salsabila tidak terlalu luas. Nggak tahu sih, tepatnya berapa meter kubik, tapi yang jelas ya nggak luas. Kalau di sini, karena relatif ramai, cuma bisa berenang dari sisi satu ke sisi lain yang mengikuti sisi kolam yang pendek. Karena kolam ini kecil, jadi pas badan baru saja mendapatkan ritme renang yang pas, eh, udah kena tembok sisi satunya. Jadinya, ya. Begitulah.

Salsabila ini ada kantin dan musholanya. Walau sempit, tapi lumayan bersih.


Depok Sport Center (DSC)

Saya baru aja ke sini kemarin hari Jumat. Dulu pernah ke sini juga, tapi udah bertahun-tahun yang lalu. Mikirnya sih, karena udah lama nggak ke sini sekalian liat, ada yang berubah nggak. Harapannya, semakin bagus. Kenyataannya, engkau masih... seperti yang dulu... *let' sing along!*

Di DSC, ada tiga kolam. Kolam outdoor, kolam indoor, dan kolam indoor anak. Nah, untuk jam khusus cewek hanya berlaku di kolam indoor. Jadwalnya hari Kamis, Jumat, Sabtu, all day! Jadi nggak usah mikir jamnya, yang jelas harinya aja. Biaya masuknya kalau weekdays Rp 12.000,- kalau weekend kayaknya lebih mahal, tapi nggak tahu berapa hehe.

Kolamnya luas. Kalau boleh lebay, saya tulisnya luaaaaas. Kenapa saya tulis demikian, karena dibandingkan dengan orang yang berenang di dalamnya, serasa kolam renang pribadi.



Lihat ada garis biru untuk membatasi jalur? Kira-kira ada 3 atau 4 jalur gitu. Luas kan?



Nggak tahu ya, mungkin karena waktu saya ke sana itu hari Jumat jam 12-an atau emang biasanya sepi-sepi aja. Waktu saya ke sana, ada segerombolan anak SMA sejumlah 6 orang dan ibu-ibu 1 orang. Jadi kolam seluas itu isinya cuma ber-7. Wangun ra? 

Tempat duduknya sempit sekali dan hanya tersedia di salah satu sisi tembok.

Saya sih seneng kalau sepi begini. Tapi...di sini agak...horor. Ini menurut saya aja sih. Jadi gini, setelah anak-ana SMA itu mentas, ibu-ibu itu ngajak ngomong saya,
"Wah, mbak, tinggal kita berdua", sambil senyum ramah.
"Eh? Iya bu, hehe"
"Sendirian tho mbaknya?"
"Iya, hehe"
*lanjut berenang*
Setelah beberapa saat, ibu-ibu tersebut juga mentas. Saya udah agak deg-degan berenang sendirian. Tapi ya...saya tetep berenang bolak-balik saat mereka bilas dan masih duduk-duduk di pinggir kolam. Setelah mereka pergi dan ibu-ibu tadi di ruang bilas, saya pun mentas.

Akhirnya saya sendirian di kolam yang agak creepy ini.

Kenapa aku bilang agak creepy?

Suasananya hening. Nggak ada musik. Nggak ada lampu, penerangan cuma dari matahari di salah satu sisi dinding. Nggak ada petugas yang jaga.



Selain itu, area kolam indoor ini tidak terlalu bersih. Keramik di pinggir-pinggir kolam terlihat kotor. Tahu kan, kayak sedikit berlumut tapi kering, kesannya kotor gitu. Ada beberapa keramik yang dibongkar dan ada selangnya gitu, mungkin itu pompa atau apa saya juga kurang paham. Airnya dingin. Tapi tidak terlalu bening dan ada serangga atau daun kering mengambang gitu, pokoknya item-item nggak jelas, cuma dikit sih, tapi gara-gara itu saya nggak bisa berenang dengan gaya bebas, takut itu masuk mulut pas ngambil nafas. Terus tangga untuk naik dan nyemplung kolam cuma satu, kecil pula, di pojokkan. Nek nanti ada apa-apa piye? Mana badanku berat, nggak bisa langsung naik tanpa tangga :v

Sebenarnya, saya ini yang terlalu paranoid sih.

Aniway, saya pun masuk ke ruang ganti dan ketemu ibu-ibu tadi.

"Eh, udah selesai mbak?", sapanya.
"Iya, udah bu, hehe"
"Saya duluan ya,"
"Oh iya Bu..."

*saya heha-hehe melulu ya*

Saya pun bilas. Di ruang ini ada empat bilik ganti yang nggak tinggi, tingginya cuma sekepala aja. Terus ada lemari loker, bisa naruh baju atau peralatan mandi di situ. Nah di depan lemari ini ada tembok dengan empat atau lima shower. Temboknya nggak sepenuhnya menutup, tapi atapnya tinggi. Showernya nggak dipisah di bilik-bilik, melainkan satu deret di salah satu sisi tembok. Agak was-was sih. Saya bilas sambil ngecekin atas terus atau noleh-noleh paranoid.
Karena tempat bilasnya di ruang terbuka, saya bilas dengan baju renang utuh. Nggak penak, saudari-saudari. Rasanya nggak bersih. Di beberapa titik lantai ada genangan air yang mungkin dari atap bocor atau apa. Kalau saya sih risih. Setelah ganti baju, saya pun kembali ke pinggir kolam untuk mengeringkan rambut.

Sehabis pake sunblock, karena saya naik motor dan menempuh 30 menit perjalanan dari sini ke rumah, saya mendengar suara orang dateng.

Ada mbak-mbak berdua masuk. Beberapa menit kemudian, ada dua mbak-mbak dateng lagi. Tahu-tahu musik berkumandang di seluruh area kolam.

Hmm.

Saya pun menyesal udah mentas duluan, padahal  belum puas berenang. Aargh! Dasar porno, eh, parno!

Kemudian, saya menyadari hal yang nggak penting. Handuk saya merk nya BigBang. *Wow, fantastic, baby!*


Ya sudah lah. Kalau mau berenang di sini harus ngajak temen nih biar nggak paranoid. *lempar HT ke Wanda sama Hita*

Hmmm besok renang di mana ya? Kalau awal minggu udah pasti cuma bisa di Salsabila, kalau weekend ya galau deh. Kedua kolam renang di atas ada kelebihan dan kekurangannya maisng-masing. Ah. Galau. Saya cuma dua kolam renang itu yang aku tahu ada jam khusus ceweknya. Kalau ada yang tahu tempat lain, kasih tahu saya ya :D

Berenang Yuk!

by on May 31, 2014
Sejak ikut les renang pas jaman SD dulu, saya jadi suka olah raga yang satu ini. Banyak gerak tapi nggak kepanasan lha wong geraknya di air....