Showing posts with label In My Mind. Show all posts
Showing posts with label In My Mind. Show all posts
Actually I wrote something that I can not wait to share with you. Yeah, you, anyone who randomly end up reading my blog. Thank you for reading anything I put in here. *hugs*

Anyway, I wrote some fiction a couple days ago. I thought it was pretty great so I sent it to two of my close friend to read it. I wanted them to correct the grammar and I really really really want to hear their opinions. The next morning, I couldn't wait to post it here and they had not read it yet, so I said to myself, "Hey, we can always correct them later, post it when do you want to post it!". And as I copy-paste it, I re-read it again. Then I realized that it was crap.

Like. Oh my God. I'm so embarrassed.

I told my friends to don't bother to read it because it was so effing awful. It was a mess. It was ridiculous.

It was *&^$#!

My defense is, it was the very first draft, of course it was crap. But I can't forget how excited I was when I sent it to my friends. I wrote it while waiting for my friends for almost 4 hours (yeah, lucky me I brought my laptop). I'm so....oh my God, was I drunk from drinking caffeine?!

I really want to make it better, so I try to elaborate the elements of the story. What is the problem there? The character's flaws? It will be more than two chapters, won't it? The grand plot?

This is why I really need to learn about creative writing, really about all the single things about it. Now I know one thing though. Always re-read what we write, again and again in different times, more than twice.

More Than Twice

by on January 23, 2016
Actually I wrote something that I can not wait to share with you. Yeah, you, anyone who randomly end up reading my blog. Thank you for rea...
Why’s everyone getting hotter while I’m right here not getting any close to any kind of hotness that I thought I had back then, standing here with potato face and potato body and undeclared eternal love for potatoes.....yeah that’s why, it’s because I love potatoes.

-

Biasanya setiap ketemu sama kenalan, aku selalu punya perasaan takut nggak dikenali dan lebih memilih untuk cuek daripada menyapa. Tapi kalau aku yakin bahwa orang itu pernah menyadari eksistensiku di satu titik dalam hidupnya dan sebaliknya, aku selalu berusaha untuk menyapa. Setidaknya ketika aku sedang merasa percaya diri. Atau sedang pura-pura percaya diri.

Suatu pagi menjelang siang, aku bertemu dengan teman lama setelah sekian tahun nggak bertatap muka. Setelah liat-liatan selama sepersekian detik, kami sama-sama mengenali satu sama lain dan mulailah basa-basi sambil senyum-senyum senang. Aku sih, yang senyum-senyum senang, karena dia adalah salah seorang teman yang seumur hidup nggak akan pernah aku lupakan. Hahaha

Setelah bertukar kata nggak lebih dari semenit, dia pun pamit pergi karena tempat itu terlalu ramai dan dia memilih untuk datang lagi di lain waktu. Sesaat setelah itu, aku mbatin...

He does well. He seems that he successfully put himself together. And also, damn, he looks so fresh, sleek, and so f***ing good!

Lalu saya menatap diri saya sendiri dan muncullah pikiran berupa paragraf pertama dari tulisan ini.

Semua orang yang aku temui rasanya memiliki kabar yang baik. Entah secara fisik yang terlihat semakin kece atau prestasi-prestasi mereka yang tambah kece banget. Terus aku mikir.

Adakah kabar baik dariku yang bisa aku sampaikan ketika bertemu dengan kawan lama?

Sorot balik ke satu-dua tahun yang lalu...

Kondisiku waktu itu yang mungkin tidak seperti bayangan orang-orang tentangku empat tahun sebelumnya terasa seperti....aib. Ketika ditanya lagi sibuk apa atau bekerja di mana sekarang, saat menjawabnya selalu ada secuil perasaan bersalah yang diiringi hembusan nafas dalam. Apapun yang aku katakan, entah ‘alhamdulillah, baik’ atau ‘masih di sini aja’ atau ‘ya, lumayan, ada progres’ atau bahkan ‘hahahahaha’ dan atau-atau lainnya, sepotong beban itu selalu aku rasakan menekan pundakku, secara konstan berputar di dalam otak ku, menempel di dalam dadaku, bersarang tepat di atas jantungku.

Lalu sesuatu terjadi.

Menerima diri sendiri dan segala hal yang berkaitan dengan diri ternyata memang membutuhkan orang lain. Se-ngeyel-ngeyel nya kamu, bahwa kamu bilang kamu tidak butuh orang lain untuk ini, ada titik tertentu di mana kamu merasakan ringannya tubuhmu saat orang lain menyadari, berusaha memahami, dan/atau/lalu menerima diri kamu apa adanya.

Rasanya....bebas.

Rasanya semua memang baik-baik saja. Rasanya semua memang akan baik-baik saja, selamanya, apapun yang dihadapi nanti pasti akan dilewati dan berakhir baik-baik saja. Rasanya aku memang bisa melakukan apa saja kalau didasari kebulatan tekad. Rasanya aku memang mampu, tidak hanya diucapanku saja dan tidak hanya diucapan orang lain saja, tapi aku memang mampu.

Aku tidak yakin perasaan ini akan bertahan selamanya. Sekarang, ketika aku merasa hampir putus asa dan tidak bertenaga, aku lalu mengingat-ingatnya dan aku pun merasakan sengatan-sengatan kecil semangat yang membuatku terjaga dari kebosanan dan kemalasan. Kadang nggak mempan sih, tapi di kadang-kadang yang lain itu cukup membuatku semangat.

Selain itu, saat aku baca tulisan yang dulu aku tulis dan aku tujukan kepada diriku di masa kini maupun masa depan ternyata bisa bikin.........aaaakkk kata 'semangat' nggak cukup buat mendiskripsikannya! Semangat campur terharu campur geli campur takut tapi senang hahahahaa.

Dan kamu tahu, siapa orang-orang yang bisa membuatmu merasa berapa beban yang kamu rasakan benar-benar terangkat dari pundakmu barang sejenak? Siap-siap terkejut, karena kalau kamu seperti aku, orang yang kamu bilang tidak kamu anggap dekat dan kamu pikir tidak peduli dengan dirimu, bisa jadi adalah orang yang membuatmu merasa bahwa hidupmu penting dan patut diperjuangkan.

Orang-orang disekitar kita itu memang begitu. Kadang kita pikir mereka penting, kadang kita pikir mereka tidak. Kadang mereka memang penting, kadang mereka tidak.  Kadang kita pikir kita penting bagi mereka, tapi ternyata tidak. Kadang kita pikir kita tidak penting bagi mereka, tapi mungkin ternyata kita penting sekali bagi mereka.

Oke, yang terakhir tadi agak ngarep.

Aku sendiri kurang yakin tentang pikiran orang-orang di sekitarku, terutama keluarga dan teman-temanku, tentang aku. I can be very self concious, most of the times. Rasanya pengen meminjam mata mereka untuk melihat wujud dan perilakuku. Apa aku cukup begini? Apa aku sudah begitu? Mana yang lebih mereka sukai, aku yang begini atau aku yang begitu?

Sekarang aku putuskan untuk menerima saja apa yang mereka pikirkan dan rasakan tentang aku. Aku ingin menerima mereka juga dan tidak banyak tempat untuk menerima orang lain ketika kita belum menerima diri sendiri.

Jadi, ketika aku kembali ditanya kabar dan kesibukan apa yang aku miliki sekarang, jawaban yang aku lontarkan mungkin akan berbunyi sama dengan sebelum-sebelumnya, tapi kali ini, aku percaya bahwa jawabanku adalah usaha untuk menjadi jujur yang bertujuan menjawab pertanyaan semata, bukan untuk membandingkan hidupku dengan orang lain.

Itu sih.

Oh iya, sama aku harus mulai olah raga lagi biar badanku nggak kayak kentang begini.

Dan diet.

Aaaaaaaargh.

Potato? Potato.

by on September 12, 2015
Why’s everyone getting hotter while I’m right here not getting any close to any kind of hotness that I thought I had back then, standing h...
What I wish I said :
"Tell me that you don't love me anymore so I can let you go and move on."

What I really said :
"It's okay, we can still be friends. We can still hang out, share stories, and stuff. It's cool."

What happened after that :
Nothing.

What I feel :
*sigh*

What I learn :


Growing Apart

by on July 08, 2015
What I wish I said : "Tell me that you don't love me anymore so I can let you go and move on." What I really said : ...



Halo, orang-orang baik! Iya, aku bicara sama kamu. Kamu yang beda dari aku dan juga kamu yang sama kayak aku.

Aku nggak membencimu, oke? Just so you know. Aku turut bahagia karena kamu bahagia. Bahagia itu menular kalau kita peduli sama orang yang berbahagia dan aku peduli sama kamu.

Aku berada dalam posisi yang aneh sekarang. Sebagai orang yang belajar psikologi dan sebagai seorang muslim, aku adalah kedua hal tersebut yang nggak bisa dengan mudah dipisahkan. Rasanya lebih mudah kalau aku berdiri di salah satu pihak, but you know what? I can do both.

Can't I?

It's more like 'hate the sins, not the sinners' situation, I guess? And your sin is not my business. It's yours and God's. Itu juga kalau kita sama-sama memandang perilaku tersebut adalah dosa, karena kamu beda dari aku, aku nggak yakin pikiran kita bakal sama. Itu juga kalau kamu percaya Tuhan. Kalau nggak percaya pun, itu juga bukan urusanku. Hubunganmu apa sama Tuhan, itu semua urusan pribadimu.

Kita sudah dewasa, kan? Kita bisa cari tahu. Kita bisa meinginterpretasikan sesuatu dari berbagai macam sumber. Kita bisa memilih dan pilihan yang akan selalu ada adalah menjalani atau mengingkari. Apapun caranya, apapun bentuknya. Nggak ada jawaban yang sama. Eh mungkin ada ding. Tapi yang beda lebih banyak kayaknya.

Hey, ini hidup mu kan? Kamu yang paling tahu. Aku aja yang sok tahu kalau kamu paling tahu. Tapi aku rasa emang kamu yang paling tahu tentang hidupmu sendiri sih, orang kamu yang ngejalanin juga kan. Jadi. Ya. Kamu pasti tahu.

Aku sok bijak ya? Hahahaha. Ini cuma penampakannya aja aku rasa. Cuma sebagian dari aku yang aku pilih untuk aku tunjukkan ke kamu.

Aku pun adalah seorang pendosa. On some level, we're not that different. *berpelukan*

Aku ngomongnya muter-muter ya? Hahahaha. Maaf deh. Ya gimana lagi, emang ini sih yang ada di kepalaku sekarang.

Stay good to others, okay? Stay nice and harmless, even with your own self, okay? I'll try my best to do the same and it's nice to know that I'm not alone.

Hey. You're not alone. I'm here if you want to talk :)

Pelangi Pagi Tadi

by on July 01, 2015
Halo, orang-orang baik! Iya, aku bicara sama kamu. Kamu yang beda dari aku dan juga kamu yang sama kayak aku. Aku nggak memb...

Seandainya aku adalah Pinokio. Oke, mungkin aku akan membenci hidungku yang memanjang setiap kali aku berbohong karena tampilanku nggak akan elok, tapi setidaknya aku jadi berhati-hati saat mengatakan sesuatu. Setidaknya aku langsung mendapatkan ganjaran setiap kali aku berdusta sehingga aku lebih menghindarinya. Sama seperti kata 'janji' yang aku ucapkan tapi tidak aku tepati. Sama kan? Intinya berbohong.

Apapun, sebenarnya. Entah hidung memanjang seperti Pinokio, kepala yang tiba-tiba pusing, dengingan di telinga, pipi yang tiba-tiba gatal, atau tangis tiba-tiba yang tak terkendali.
 
Atau perasaan bersalah.

When you're so good at lying so that you don't even realize that you're only lying to yourself. You fool yourself, not others. And you feel only nothing because you've done it so many damned time before.
 
And you're just there, existing, somewhere on earth, with nothing to believe in and begging to God, screaming without voices, you want to feel guilty once again, you want to stop.

I wish I could stop.

I want to stop.
Tuhan mendengar doa kita, kalau kita percaya. Semoga Dia mengabulkannya pula.
Kalau kita bicara tentang keindahan, jawabnya selalu relatif. Itu masalah selera dan selera tidak bisa diperdebatkan. Man, itu satu-satunya hal yang saya ingat dari kelas Filsafat.



Di serial tv Orange is The New Black season 3, ada karakter baru yang cukup menonjol. Namanya Stella, diperankan oleh Ruby Rose. Ruby Rose ini adalah model dan aktor wanita asal Australia. Lihat video di bawah ini untuk tahu gimana penampakan Ruby Rose. Atau googling aja yang lebih gampang hehehe 


Menurut dashboard akun Tumblr saya, ada banyak cewek yang bilang mereka gay for Ruby Rose. Ada pula cowok gay yang mengaku tertarik sama Ruby Rose. Apa berarti mereka jadi straight? Eh, ini ada istilahnya. Kalau merasa tertarik secara seksual ke orang lain tanpa pandang jenis kelamin atau identitas gender, namanya pansexual. Itu kalau beneran ya, usahakan jangan menggunakan istilah sebagai bahan bercandaan. Kapan-kapan deh saya tulis tentang gender dan lain-lainnya.

Kembali lagi ke Ruby Rose.  I mean. Well. I can't blame them for saying such things, she's attractive.  
 
Itu menurut saya lho. Entah karena wajahnya yang emang cakep, atau gaya dandanannya, atau tatonya, atau kepercayaan diri yang terpancar dari auranya. She's attractive. AF. Walau saya nggak sampai having girl crush ke dia. Saya akui dia menarik.

Btw pada tahu AF itu apaan kan?

Anyway.

Saya masih lebih suka Natalie Dormer sih. Gara-gara dia nongol di video music nya Hozier yang Someone New. Saya suka penampilannya dia di sini, dandanannya dan juga aktingnya.

Girl crush!!

Oh iya, saya straight dan insyaallah bakal tetap straight seumur hidup. Menurut saya nggak ada salahnya sesama cewek ngatain satu sama lain bahwa mereka cantik atau cakep. Menarik hati. Membuai imajinasi.

Hussh. 

Hahahahahaha

Maaf ya, saya nulis campur-campur pake Bahasa Indonesia baku, nggak baku, dan Bahasa Inggris. But it's more like sorry-not-sorry, because this is my personal blog and I do what I want.

So.

Yeah.


Pagi.

Hujan. Dingin. Bayangan. Pelukan.

Lalu tersenyum.

Mendekat. Menghangat. Kecupan. Kecupan. Senyum simpul. Kecupan.

Lalu terbangun.


Moooorning

by on June 20, 2015
Pagi. Hujan. Dingin. Bayangan. Pelukan. Lalu tersenyum. Mendekat. Menghangat. Kecupan. Kecupan. Senyum simpul. Kecupan. Lalu te...



HAAAAI!! :D

Aku akan menulis di blog ini dengan lebih rajin lagi, seperti rajinnya aku nulis skripsi (which is not rajin at all hahahaha). Iya guys, aku belum lulus nih. Doakan ya, terima kasih banyak. Hehehe

Kalau ada yang penasaran bagaimana kabarku, aku biasa-biasa saja. Nggak banyak yang berubah. You know. Just try to survive. I'm still seeking a way to keep me motivated. Begitulah. Kalian gimana? Apa kabar? 

Semalam aku kembali menulis buku harian. Setelah nonton It's Kind of A Funny Story, ada desakan untuk menulis lebih sering lagi biar jiwa ini sembuh dari perasaan-yang-kayaknya-depresi-yang-miriplah-sama-Craig (tokoh utama di fim tersebut). Ternyata nulis tangan sambil tengkurap itu bikin pergelangan tangan capek ya, udah lupa rasanya. Ah, lagi-lagi nostalgia.

Yak. Begitulah. Oke.

Do you like my new template? Because I really do! Tadinya mau ganti foto buat banner sekalian, tapi apa daya belum punya duit buat DP ke Ameng :))

It's Been Sooooo Long

by on April 24, 2015
HAAAAI!! :D Aku akan menulis di blog ini dengan lebih rajin lagi, seperti rajinnya aku nulis skripsi ( which is not rajin at all h...
Yang Pertama seperti kenangan masa kecil.

Seperti ketika kamu berlari bersama teman-temanmu untuk berebut ayunan dan kamu adalah anak pertama yang sampai di dekatnya. Akhirnya! Sore ini kamu tidak perlu duduk di rumput untuk mengantri. Kamu tertawa senang sambil meraih pegangannya yang menjulur kaku menahan dudukan ayunan. Teman-temanmu kecewa, tapi pada saat kamu berjinjit mengambil ancang-ancang untuk berayun, mereka telah menemukan permainan yang lain.

Lalu kamu berayun. Sekali. Dua kali. Kamu menjejak tanah lagi dan memantulkan diri. Kamu berayun semakin tinggi.

Rambutmu tersibak. Kamu yang berayun menciptakan angin, namun kamu juga merasakan angin mendorongmu untuk berayun lebih kuat lagi. Dalam hati kamu bertanya-tanya, apa yang akan terjadi kalau kamu melepaskan peganganmu. Kamu membayangkan terbang.

Ponimu berantakan tapi kamu tidak peduli. Rok mu tersingkap tapi kamu tidak peduli. Tidak ada yang bisa menggangumu ketika kamu sedang mencoba menantang gravitasi.

Kamu terlena.

Apakah aku benar-benar bisa terbang?

Kamu lepaskan peganganmu tanpa tahu apa yang akan terjadi. Sedetik kemudian kamu berada di atas tanah dan kerikil. Kamu menangis histeris.

Pipi, tangan, dan lututmu perih. Orang-orang mendatangimu lalu mereka mengantarmu pulang.

Pipi, tangan, dan lututmu tergores. Ibu mencuci luka-luka itu dengan air.

Obat merah, betadin, dan kapas diambil dari lemari. Kamu masih terisak. Obat-obatan itu menyengat, membuatmu melanjutkan tetes demi tetes air mata yang belum sempat kamu seka.

Tidak apa-apa, kata Ibu.

Tidak apa-apa.

***


Yang Pertama seperti kenangan masa kecil.

Kamu mengingat yang membuatmu tersenyum. Kamu juga mengingat apa yang membuatmu marah. Kamu mengingat apa yang menyakiti hatimu dulu, karena kamu sudah bisa menertawakannya. Kamu mengingat semuanya karena itu membuatmu bahagia.


Yang Pertama seperti kenangan masa kecil.

Semakin kamu kenang, semakin membuatmu ingin kembali. Kamu tahu kamu tidak bisa mengulanginya, tapi tetap saja kamu mengenangnya dan tetap saja, kamu ingin kembali.

Lagi dan lagi.

Yang Pertama

by on November 05, 2014
Yang Pertama seperti kenangan masa kecil. Seperti ketika kamu berlari bersama teman-temanmu untuk berebut ayunan dan kamu adalah anak ...
It feels weird walking around campus without meeting someone I know. There’s only juniors that two or more years younger than me. It’s been soooo long that I actually go to campus. I admit it I’ve been avoiding it for several months. I don’t know why I did that. I think I was lazy.

I decided to not be lazy anymore. If I’m lazy, I don’t do any progress in my thesis, and that means I can’t graduate. I want to graduate, so... Yeah. Simple logic but it takes me a year to realize that I really want to graduate.

Beside that, my sister is going to get married next year, in February. After that, she will be moving in to her husband’s house and his house is so far from here, it takes 8 hours car ride. I don’t think without her to talk about what’s stress me out, will keep me sane. When she’s gone, it’s just me, my older brothers, and my parents in the house. All of them drive me crazy sometimes and I’m not a patient person. I might be calm, but I’m boiling inside. I’m afraid if I still have some unfinished business, I will explode and have to go 'somewhere for special treatment'. That won't be pretty.  So. I must graduate before my sister’s getting married.

Now I have to make a destitution letter because I forgot to pay college fee for last semester. See, this is my fault. I don’t really realize that my action (in this case my laziness) affect my parents life in a way. The destitution letter should be signed by the head of the lowest administrative unit and the head of administrative unit at the next-to-lowest level in city (yeah, that's the English for RT and RW... I guess).

My parents are not poor. My parents are wealthy enough to pay college fee. Would my parents be ashamed? My father have three cars, for God’s sake, of course they would be ashamed. They will be ashamed because of me. ME. Now I really want to cry. Well, there’s tears hanging in my eyes.

This morning I just want to get my excitement for doing my thesis back. So I went to an aerobic morning class, took a shower there, then went to campus to take care my thesis card. After that I was planning to go to a cafe and start writing my thesis again. Unfortunately, my stupidity got in the way. Ugh.

I thought that I wasn’t hungry anymore because I felt like there was a stack of rocks in my stomach, thinking about how I’m letting down my parents.

But a girl got to eat.

There is an eatery place around campus that I want to try. So here I am, in a peaceful place named Kedai Kolondjono. Sitting all by my self, all alone in a table for four.

Time after time. Bites after bites.

You know what, I want to own a place like Kedai Kolondjono. It gives cozy atmosphere, it’s small, it’s only have 18 chairs for costumers, it’s not in a crowded street, it plays good music and not so loud, there’s an air conditioner, free wi-fi, and the food is organic. I don’t really care about organic food, actually, as long as they’re halal and delicious, I’ll eat it hahaha. It’s also not really pricey, consider it organic. It’s a good place to spend ‘me time’. It’s also a good place to work something with your books or laptop. I definitely want to go back here couple of times again.

Well. Now I have a proper energy to stop being sad, so I stop.

Okay, here’s what I’m gonna do.


In this particular destitution letter situation :

Make an apology to may parents. Okay. But...how? :(  They’re gonna be mad at me. Though I’m kinda afraid of my father, I can’t avoid him for the rest of my life. And my mother. Oh my. How can I did this to them? How can I let them down again and again? :(


In this ENTIRE LIFE. Like, really. :

Stop regreting everything. It had happened, I can not change anything that had already happened. So be it.

Stop making excuses for anything. Like, everything. I have this urge to having and giving reasons. Well, everything happen because of reason, and sometimes the reason is stupidity. So I should stop being...stupid. I don’t want to be stupid anymore.

Do my thesis wholehearted. I’m always think too much, therefore it looks like I’m always serious, but actually I’m not. I’m always thinking about something that I forget to doing it. I should pour my heart into my work. I chose the topic, I should enjoy it somehow.

Be more grateful. I have this seriously strong power of one of the seven sins : envy. Lately, I find my self envious when someone post a picture while they’re studying abroad or when anyone make another achievement. It makes me want their life because my life is so boring and useless. See how hopeless I got? I don’t want to think that way anymore. I should be thankful that God has given me chance to be a better person, I should be more grateful.

Be focus. THIS IS THE HARDEST OF ALL. I guess. I’m so easily distracted with other activities that more fun than doing my thesis. I need to read a lot of books, watch videos that related to my research, maybe it will help to put my mind on my thesis in a fun way, every time.

That’s for now.

Oh, can you help me? When you see me playing or doing nothing, please tell me to write my thesis. Don't invite me to do something fun... Oh, why oh whyyyy :(. Unless you really need me to have some fun. Don’t ask too much, don’t make me give you any excuses. Just tell me to do my thesis. Please?

Thank you very much. Wish me luck!

This Morning

by on September 12, 2014
It feels weird walking around campus without meeting someone I know. There’s only juniors that two or more years younger than me. It’s bee...
Ada titik di mana kita lelah memperdebatkan dua sudut pandang yang berbeda.

Di titik itu pula, kita ingin berteriak karena orang lain tidak kunjung paham apa yang kita bicarakan.
Di titik itu pula, kita sadar bahwa berteriak hanya akan membuat orang lain ikut berteriak.
Di titik itu pula, kita sadar mungkin yang salah bukan kita, tapi orang lain yang tidak mau memahami.

Dan di titik itu pula, orang lain memikirkan hal yang sama.

Ada titik di mana tatapan yang tidak sengaja dilakukan menjadi lirikan, menjadi tajam dan mencemooh, menjadi tantangan untuk berkelahi sampai mati.


Aku temukan titik-titik itu di sekilingku.
Aku terjebak di dalamnya.
Dan di antaranya.

. . . .

by on August 10, 2014
Ada titik di mana kita lelah memperdebatkan dua sudut pandang yang berbeda. Di titik itu pula, kita ingin berteriak karena orang lain tid...
Biarkan saya menghela nafas berat sekali lagi. Huuffft. Oke.

Biarkan saya menarik nafas dalam-dalam dan mengehembuskannya secara perlahan.

Oke.

Baiklah.

Kembali ke nol.

Saya mulai lagi dari nol. Sudah berbulan-bulan dan saya cuma bergerak dari angka nol dan satu. Ya, walaupun secara teori di antara nol dan satu itu tak terbatas. Saya maju sangat sedikit, lama terdiam di titik tersebut, lalu kembali ke nol karena....

Karena saya nggak yakin titik tersebut ada.


0 - 1

by on July 27, 2014
Biarkan saya menghela nafas berat sekali lagi. Huuffft. Oke. Biarkan saya menarik nafas dalam-dalam dan mengehembuskannya secara perla...
I like to talk about my self. Yeah, you read that right. I feel like I have to explain my behavior or my point of view, well, all of my life. I want you to understand and say something if I do wrong so I can learn form that. But you say nothing. 
"What's wrong with you?"

You didn't say it out loud but  I always can hear it through your nodding head, your wandering  eyes that avoid my eye contact, and the 'hmm' sounds you make.

Then I answer it, though I know it was rhetorical.

Then again, you just nod.

Still, I can hear you say, "What's wrong with you..."

You just sit there, saying nothing and start forgetting.

Then I reach a point that I don't need you. I don't need any of this chit-chat. I don't need you to tell me.

Because you know what? I know that I should stop lying and do things that I said I will do. I know what part of me that need to be fixed. I know that I can't hold on to somebody else beside my self. I know that I fight on my own and I have to fight harder because no one will help me. I know that I should help my self. I know that I should keep my shit together.

I know that you don't care a bit.

Although I know that, I know that eventually I will come to you with a hope that you will understand this time and you will do or at least say something about it. That time, I hope you will tell me something that I don't know because I'm tired of figuring it out by my self.
by on July 24, 2014
I like to talk about my self. Yeah, you read that right. I feel like I have to explain my behavior or my point of view, well, all of my li...
Dua hari yang lalu, saya berkenalan dengan beberapa orang baru. Mereka teman-teman kerjanya teman saya. They seem cool. Seperti biasanya, saat saya belum kenal dekat, saya lebih banyak mengamati daripada menyumbang pembicaraan.

Kami ngobrol seru. Salah satu obrolan kami adalah tentang hubungan lelaki dan perempuan. Lalu ada yang berkata kurang lebih seperti ini, "Cewek emang kudu hati-hati. Hati-hati dengan apa yang kamu tawarkan kepada laki-laki." Dia menjelaskan, misalnya pasangan yang sudah menikah merayakan hari jadi mereka. Untuk merayakannya, sang istri menggunakan lingerie. Katanya, jika sekali sang istri menggunakannya, untuk malam-malam berikutnya sang suami pasti akan menuntut istri untuk memakai lingerie. "Cowok nggak bisa mundur," tambahnya.

Saya waktu itu hanya manggut-manggut dan ketawa kecil, melihat kenyataannya memang ada yang seperti itu. Lalu ia menambahkan lagi, "Jadi, kalau cowokmu nakal, jangan salahin dia. Tapi salahin mantannya hahaha.."

Saat itu saya kembali ikut tertawa.

Saya tidak terlalu memikirkan itu sampai tadi saya bicarakan sama teman-teman saya yang lain. Waktu itu saya cuma cerita saja.

Lalu di jalan pulang, barusan saja, it hits me.

Kenapa cewek yang disuruh berhati-hati dalam 'menawarkan' sesuatu ke cowok, seolah-olah jika terjadi sesuatu maka kesalahan ada di pihak yang 'menawarkan'? Emangnya apa sih yang cewek tawarkan? Apakah cewek benar-benar 'menawarkan' atau cowok aja yang merasa 'ditawarkan' sesuatu oleh cewek?

Itu bikin saya keinget tentang victim blaming  di kasus-kasus perkosaan. 

Kalau memang sudah menjadi pasangan, tidak bisakah pasangan bernegosiasi tentang apa yang mereka lakukan? Kalau ceweknya nggak mau, haruskah cowok maksa terus sampai ceweknya mau? Setidaknya cewek punya alasan kalau nggak mau. Kan bisa saling komunikasi, membicarakan alasannya apa dan lain sebagainya. Bukannya cowok juga manusia, yang seharusnya bisa belajar mengendalikan diri mereka?

Hih. Saya kok selalu punya pertanyaan. Ada yang bersedia menjawab?

Secara fisik, cowok dan cewek memang dua makhluk yang berbeda. Hormon turut mempengaruhi apa yang terjadi di otak kita. Cewek mikirnya beda sama cowok. Beberapa memahami jenis kelamin lain, beberapa tidak.

Nggak semua cowok seperti itu. Nggak semua cewek seperti ini. Tergantung. Semuanya tergantung kepribadian masing-masing orang, masing-masing hubungan, dan masing-masing yang lain-lain Hah. Jawaban yang membosankan ya. Tapi memang itu sih jawabannya. Tergantung.

***
Pembicaraan ini mungkin cuma gojek. Buktinya yang ngomong ketawa, saya pun juga ketawa. Obrolan yang mungkin tidak scientific. Bercanda aja. Nggak usah terlalu dipikirkan.

Ya Tergantung Sih...

by on July 22, 2014
Dua hari yang lalu, saya berkenalan dengan beberapa orang baru. Mereka teman-teman kerjanya teman saya. They seem cool. Seperti biasanya, ...
Ketika rasanya hari ini sama saja dengan hari kemarin, kemarinnya lagi, kemarinnya kemarinnya kemarin lagi, kemarinnya kemarinnya kemarinnya kemarin, dan ulang kata 'kemarin' sampai ratusan kali.

Lalu tersadar bahwa aku tidak melakukan apa yang aku niati.

Lalu aku mulai tidak percaya lagi dengan apa yang aku katakan, apa yang aku pikirkan.

Lalu tubuhku bereaksi.

Jantungku berdegup kencang, dadaku terasa sesak, dan seluruh tubuhku tidak bisa tenang. 

Seolah aku kehilangan kendali atas tubuhku sendiri

Seolah aku kehilangan kendali atas pikiranku sendiri.

Ketakutanku terjadi.

Kehilangan kendali.

Dan, ya.

Aku sedang kehilangan kendali.
     "Masih cantik aku," kataku memecah kesunyian.

     Kamu duduk diseberang meja, menyesap secangkir teh panas tanpa melihat ke arahku.

     "Aku lebih menyenangkan," tambahku.

     Aku meletakkan tanganku di atas meja dan berpangku tangan. Aku mengawasi gerak-gerikmu, menunggu reaksi atas pernyataanku.

     "Mungkin aku tidak lebih baik," ucapku, "tapi jelas, aku lebih mempesona."

     Kamu meletakkan cangkir teh ke tatakannya. Dengan matamu yang jernih, kini kamu membalas tatapanku.

     "Apa kamu bisa membuat orang lain bahagia?", tanyamu.

   Tatapanmu membuat aku bersedih. Bukan berarti kamu telah melukaiku, kamu hanya mengemukakan kebenaran, kejujuran, yang sebenarnya terlalu takut aku utarakan. Aku pengecut. Kamu tahu itu, tapi kamu tidak mengatakannya.

     "Sungguh aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu," ucapku lirih.

     Aku menyeruput es coklat dari gelas dingin yang ada di depanku. Rasanya sedikit pahit. Tapi aku suka pahitnya coklat. Selalu berhasil membuatku lebih baik tanpa basa-basi manisnya gula yang berlebihan.

    "Tidak bisakah kamu duluan yang merespon mereka?" tanyaku. "Aku merasa bersalah. Setiap datang kepadamu, aku menyadari bahwa aku tidak pantas untuk hidup, namun setelahnya kamu memberikan alasan mengapa aku harus hidup."

    Kamu kembali menyesap teh panas itu. Kamu tersenyum kepadaku. Kemudian kamu berkata,

    "Aku akan selalu di sini saat kamu membutuhkanku. Dan, ya, kamu selalu membutuhkanku seperti aku yang selalu membutuhkanmu."

    Tatapanmu lurus ke arahku. Tiba-tiba aku melihat diriku di dalam dirimu.

   "Kita adalah satu. Mengerti?", katamu sambil mengedipkan satu mata ke arahku.

    Aku tersenyum. Mengangguk.

    Lalu menghela nafas panjang.

   "Sudahlah," katamu, "Lepaskan..."

Melepaskan

by on June 22, 2014
     "Masih cantik aku," kataku memecah kesunyian.      Kamu duduk diseberang meja, menyesap secangkir teh panas tanpa melih...