Saya meneteskan air mata siang tadi. Menangis terharu, seperti ketika saya sedang nonton film The Help. Tapi ini bukan sekedar film. Ini nyata terpampang di hadapan saya. Saya melihat hubungan ibu dengan anaknya yang terpisah jauh, yang beberapa bulan belakangan sedang mengenal dan mengajari satu sama lain. Saya nggak percaya sebelumnya bahwa adik saya yang manis ini bisa begitu dewasa dalam menghadapi permasalahan hidupnya yang pelik. Setelah pertemuan dengan Mama-nya, kami bertiga berpelukan. Saya, adik saya yang cantik, dan adik saya yang manis. 

Setelah tertawa karena malu dilihatin orang lain, kami menyudahi acara peluk-pelukan yang penuh haru. Kami pun berjalan keluar, menuju tempat parkir di mana motor kami berada.

Entah sebelumnya kami membicarakan apa, tapi tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang membuatku khawatir.

“Besok bisa-bisa aku jadi kayak Mama,”

Dia berkata demikian dengan santainya. Perkataan itu membuat saya ingin memeluknya lagi dan menyuruhnya agar jangan bicara yang tidak-tidak. Mungkin memang ada kekhawatiran terlintas di benaknya, tapi saya yakin dia tidak serius.

“Enggak wis, nggak gitu, kan kamu udah..”

“Udah apa mbak?”

“Udah tahu, hehe”

Bukan itu sebenarnya yang ingin saya sampaikan kepadanya. Saat saya ingin membuka mulut saya lagi, kami bertiga telah siap untuk berkendara ke tujuan berikutnya. Saya pun mengikuti motor yang mereka kendara. Dalam perjalanan, saya menyusun kata-kata yang sebenarnya ingin saya sampaikan.

“Dulu mungkin Mama nggak punya siapa-siapa. Sekarang Mama punya kamu. Dan kamu, kamu punya kita. Kamu yang menjaga Mama dengan baik-baik dan kami yang akan menjagamu.”

Menjagamu

by on June 11, 2014
Saya meneteskan air mata siang tadi. Menangis terharu, seperti ketika saya sedang nonton film The Help. Tapi ini bukan sekedar film. In...
Media sosial di dunia maya membuat kita bisa berinteraksi dengan hampir siapapun. Sebut saja Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lainya. Secara tidak langsung, media sosial tersebut ‘memperdekat’ jarak para penggunanya. Asal orang tersebut memiliki akun media sosial, kita bisa saja ‘bicara’ kepada mereka.

Orang-orang yang kita kagumi bisa lebih mudah kita jangkau. Tinggal klik saja opsi follow dan kita sudah bisa mengakses beberapa pernyataannya tentang apapun. Tidak perlu bilang permisi untuk nge-follow dia. Tidak perlu bersalaman dan mengenalkan diri kita masing-masing. Tidak perlu berkata apa-apa. Tidak ada resiko basa-basi perkenalan yang konyol dengan muka yang memerah, ucapan yang terbata-bata, atau salah bicara.

Enak kan?

Internet membuat kita hidup lebih enak.

Tapi benarkah?

(bersambung)

"Move on itu tentang menuju bebas, 
bukan menuju siapa"
The Way We Were
Barbra Streisand
 
Mem'ries,
Light the corners of my mind
Misty water-colored memories
Of the way we were
Scattered pictures,
Of the smiles we left behind
Smiles we gave to one another
For the way we were
Can it be that it was all so simple then?
Or has time re-written every line?
If we had the chance to do it all again
Tell me, would we? Could we?
Mem'ries, may be beautiful and yet
What's too painful to remember
We simply choose to forget
So it's the laughter
We will remember
Whenever we remember...
The way we were...
The way we were... 

 ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku bosan terjebak di sini,
di dalam kenangan
Sendirian
Menunggumu,
yang tak kunjung datang
Jangan-jangan
Aku dikelilingi ilusi
Jangan-jangan
Kamu yang sungguh-sungguh tidak akan kembali...
Tapi tidak apa.
Tidak apa-apa, kan?
Cukup aku yang di sini,
mengingatmu.
Mengingat kita yang dulu..

Selamat malam Minggu!

Saya sering menghabiskan waktu malam Minggu saya seperti ini. Di depan komputer/laptop,  sambil ndengerin lagu, diselingi nyanyi-nyanyi sesuai sama lagu yang sedang saya putar. Kalau belum terlalu larut, saya nggak pake headset dan nyanyi-nyanyinya maksimal. Kalau sudah larut saya pake headset dan nyanyi-nyanyi nya pelan-pelan. Hehehe.

Ah.

Saya jadi keinget. 

Waktu saya SMA kelas XI-XII, malam Minggu saya habiskan dengan telpon-telponan sama seorang sahabat saya yang dulu beda kelas. Waktu itu jaman-jamannya sesama kartu Axis sekali telpon cuma Rp 1,-. Setiap sore menjelang malam Minggu, saya ngecharge hape flip saya yang kayak tempat bedak itu. Setelahnya, saya tinggal beraktivitas. Biasanya sih online Yahoo Mail atau Facebook. Kalau udah jam 9 atau 10, saya telponan sama dia. Bisa saya duluan yang telpon atau dia duluan. Karena setiap setengah jam sambungannya putus, jadi yang nelpon berikutnya gantian. Begitu terus sampai kami ngantuk, bisa jam 12 bisa sampe jam 2 pagi.

Apa yang kami obrolkan?

Banyak. Dari kejadian di kelas, temen-temen sekolah, guru-guru, tentang lagu yang kami suka, curhatan saya yang kayak orang ngelantur, curhatan dia, ah, pokoknya banyak!

Saya sama dia udah berteman sejak SMP, kami sering sekelas waktu SMP. Kebetulan kami masuk ke SMA yang sama. Saya di X-2, dia di X-3. Kami pun baru deket pas SMA, karena saya curhat macem-macem, ya tipikal anak emo labil nggak jelas gitu. Hahaha. Kebetulan rumahnya dekat sama rumah saya, jadi kadang saya nebeng dia naik motor. Waktu kelas XI maupun XII, kami sama-sama masuk IPS, walau tetep beda kelas, kami tetep nyambung. Saya tetep curhat ke dia dan dia tetep ndengerin saya. Ketahuan ya, yang suka curhat siapa hehe

Setelah lulus dari SMA, kami masuk ke kampus yang berbeda.

Ugh. Awal kuliah memang agak berat bagi saya.

Yang pertama adalah adaptasi dengan kehidupan mahasiswa. Kuliah beda banget sama SMA, padahal tipe belajar saya itu anak SMA banget, yaitu fokus full di kelas, belajar kalau ada ulangan doang, garap PR nya kalau besok dikumpulkan. Kuliah mana bisa gitu an?  Walau udah fokus waktu di kelas, tetap aja materi yang harus dipelajari sendiri. Bisa sih, nggarap tugas semalaman, tapi itu artinya nggak tidur sama sekali.

Yang kedua adalah kisah cinta saya yang waktu itu terasa sangat rumit.

Yang ketiga, karena saya labilnya mungkin lebih labil dari ABG sekarang, saya kurang bisa menjaga komunikasi dengan teman-teman lama. Salah satunya dia.

Beda kampus bikin kami nggak bisa bertukar cerita kapan saja. Waktu kami punya masalah atau sebel-sebelan pun jadi nggak bisa langsung diselesaikan. Saya sendiri yang sibuk dengan kegiatan kampus, dia juga sibuk di kampusnya. Udah nggak pernah telponan, SMS-an, apalagi ngobrol langsung. Kami pun sibuk di dunia kami masing-masing.

Sekarang saya masih garap skripsi dan dia udah kerja. Kami kadang saling kirim pesan via Line. Nggak intens, obrolannya juga nggak seintim dulu. Ya, bertahun-tahun nggak ketemu bikin saya agak canggung. Bagaimana kalau dia berubah? Bagaimana kalau saya yang berubah? Either way, saya cemas kalau saya nggak bisa nyambung dan tetap canggung. Have we grown apart?

Ah. Jadi kangen dia. Dia lagi apa ya, sekarang?

Malam Minggu

by on June 07, 2014
Selamat malam Minggu! Saya sering menghabiskan waktu malam Minggu saya seperti ini. Di depan komputer/laptop,   sambil ndengerin la...
Kadang bete juga dipanggil 'ibu' sama mas-mas yang nggak kenal. Ya iya lah, kalau kenal saya, dia nggak bakal manggil 'Bu' :p. Dulu saya pernah keki abis ketika ada mahasiswa semester awal manggil saya 'Ibu' pas saya jaga Lir. Perasaan muka saya belum kelihatan tua. Tapi waktu itu saya memang lagi capek banget, ditambah bete, jadi ya...mungkin muka saya seperti nenek sihir.

Terus waktu ngurus perpanjangan SIM beberapa waktu yang lalu, bapak-bapak yang ngurusin administrasinya juga memanggil saya 'Bu'. Begini ceritanya.

Waktu kloter saya antri, karena nggak kebagian kursi saya malah jajan J.Co di lantai bawah. 40 menit kemudian, saya balik ke SIM Corner. Eh, pas nomor saya dipanggil dan menuju salah satu booth, ternyata yang dipanggil barusan bukan nomor urutan formulir, tapi nomor baru yang dipakai untuk membayar biaya pembuatan SIM. Membingungkan memang. Mbok dikasih kode gitu. Yang kecele  dan bingung akan dua nomor ini bukan hanya saya saja lho.
Oke, kembali ke cerita.

Walaupun kecele, saya pede aja menghampiri bapak-bapak dengan meja yang berisi tumpukan formulir. Waktu menanyakan nasib saya (nasib bikin SIM maksudnya), saya ditegur sama bapak tersebut. 

"Ini sudah dipanggil dari tadi lho, Bu.", kata bapak tersebut sambil bermuka agak sebal.

"Maaf pak, tadi lama, saya nggak dapet kursi terus saya ke sana sebentar", kata saya sedikit membela diri.

"Saudah saya panggil berapa kali ini, tapi tadi nggak ada,"

Lalu bapak tersebut menanyakan beberapa informasi yang diperlukan dengan masih meng-ibu-kan saya. Sampailah bapak tersebut membaca tanggal lahir saya...

"Sudah Ibu atau masih Mbak ini?", tanya bapak tersebut.

Dengan cengengesan, saya menjawab, "Ya, masih 'mbak', pak, hehe.."

"Oooh masih mbak, tho! Ya nyuwun ngapunten saya ndak tahu", katanya sambil senyum-senyum.

Saya sih, ikut senyum-senyum aja. Ngerasa bersalah juga tadi telat. Udah ah, senyum-senyum aja biar bapaknya nggak bete. Hahaha

Mungkin karena postur saya atau dandanan saya ya. Kebetulan waktu itu saya dandan cewek, pake kerudung bunga-bunga, pake tas cewek, pake sepatu wedges juga. Kalau saya pake sepatu olahraga kesayangan saya (yang namanya Robins, kapan-kapan saya kenalin haha), rasanya saya nggak pernah dipanggil 'Ibu'. Apa benar ini semua gara-gara sepatu? Ah, nggak juga sih. Saya pake sandal jepit yang unisex juga pernah dipanggil 'Bu'. Berarti ini nasib saya. Hahaha

Sekarang saya senyum-senyum aja ah, kalau dipanggil 'Ibu'. Mau dipanggil mbak, tante, ibu, budhe, yang penting cantik hahahaha :p

Sesungguhnya, dipanggil ‘ibu’ itu adalah pujian ya. Pujian karena terlihat keibuan. 

Keibuan : bersifat seperti Ibu.

Berarti saya keibuan. Dulu waktu piknik sama teman-teman, saya dibilang keibuan karena saya yang bawa nasi, bawa termos minum, terus saya yang mbagi-mbagi nasi. Sakjane karena saya mikir makan terus sih terus udah laper hahahaha

Saya majang foto nggendong anak kacil ah, biar kalian yakin bahwa saya keibuan.

Ini sama keponakan yang nomor dua. Imut-imut ya? :D


Ibu itu ya, segalak-galaknya Ibu, mau marah-marah, ngomel-ngomel yang kayak gimana, itu karena sayang. Sama kayak saya. Kalau kamu saya galakin, itu tandanya saya sayang kamu :))
Apa yang kamu lakukan ketika kamu sedang jengkel kepada temanmu? Melabraknya? Ngajak dia ketemuan terus curhat? Atau ngepost kegalauan kamu di sosial media?

Hahaha.

Hubungan manusia itu menarik. Secara sadar dan tidak, kita bisa memilih mana orang yang ingin kita ajak ngobrol sampai malam di cafe atau mana orang yang kalau dia mention di Twitter nggak kamu balas. Nggak ada yang namanya keadilan di hubungan sosial manusia. Selalu ada yang diprioritaskan, karena ya, suka-suka yang punya perasaan.

Saya agak kesulitan ketika ditanya siapa teman terdekat saya. Mungkin saya akan menyebutkan beberapa nama, tapi saya pasti akan mengutarakan beberapa detail yang mungkin jatuhnya dikira saya curhat. 

Seseorang yang saya anggap dekat pernah menuliskan hal yang mengejutkan tentang saya. Mengejutkan karena waktu itu saya pikir kok tega dia nulis kayak gitu. Apakah hal itu benar-benar yang dia pikirkan tentang saya atau dia hanya bercanda, saya nggak pernah tahu. Saya terlalu takut untuk mengatakan kegelisahan saya ke dia. Akhirnya saya curhat ke teman dekat saya yang lain. Untuk sementara saya lega. Tapi nggak disangka, bertahun-tahun kemudian, hal ini masih mengganjal di hati saya. 

Kadang saya berpikir, apakah saya yang terlalu memikirkannya dengan serius? Atau ini memang benar-benar masalah yang serius?

Itu hanya salah satu dari pengalaman hubungan personal saya. Yang lain dan sama-sama bermasalah masih ada. Lain kali saya ceritakan.

Pernah bertanya pada diri sendiri. Apa yang salah dari saya? Kenapa saya nggak bisa ajeg menjaga hubungan pertemanan dari dulu? Di SD, SMP, SMA, dan mungkin sampai sekarang, saya mengalami hal tersebut.  Sebagian besar kesalahan ada pada saya, memang. Rasanya ingin mengulang lagi biar nggak ada kerenggangan dengan teman-teman dekat saya di jaman dahulu itu.

Di jaman dahulu itu. Nggak enak ya? Ada ya, yang namanya mantan teman dekat? Tapi gimana lagi, memang kenyataannya sekarang tidak sedekat dulu lagi :(

Teman. Teman dekat. Sahabat. Apa sih itu?

Seseorang yang ada ketika kamu butuhkan? Seseorang yang barengan terus sama kamu sampai kamu terbiasa sama kehadirannya? Seseorang yang merahasiakan curhatanmu? Seseorang yang selalu berhasil bikin kamu ketawa waktu kamu sedang sedih?

Seseorang yang jujur ke kamu kalau dia lagi bete sama kamu? Seseorang yang berkorban demi kepentingan kamu? Seseorang yang terbuka? Seseorang yang nggak njelek-njelekin kamu di belakang?

Seseorang yang tahu buruk-buruknya kamu tapi tetap bisa melihat kebaikanmu yang paling baik?

Apa pun itu, itu keputusanmu untuk berteman dekat dengan seseorang atau tidak. Alasannya bisa beda-beda. Temenan sama A karena dia pengertian, temenan sama B karena dia enak diajak ngobrol, temenan sama C karena dia suka ngebanyol, dan seterusnya. Karena kamu yang berteman dengan A,B, dan C, belum tentu mereka saling berteman dekat juga. Itu nggak bisa kamu paksa, tapi bukan berarti nggak bisa diusahakan.

Jadi.

Apakah kita berteman dekat?

Halo, Teman!

by on June 05, 2014
Apa yang kamu lakukan ketika kamu sedang jengkel kepada temanmu? Melabraknya? Ngajak dia ketemuan terus curhat? Atau ngepost kegalauan kamu...

“Perkenalkan, nama saya Renata, biasa dipanggil Re, dan saya- ”
“Jomblo!”
Tawa berderai dari segala penjuru kelas. Kepala yang menoleh ke arahku kini bertambah. Dengan tanganku aku menyenggol lengan Aji. Dia sedang mencoret-coret buku catatannya sambil cengengesan, berusaha menyembunyikan fakta bahwa dialah yang baru saja berteriak di sela-sela perkenalanku.
“..dan saya dari Jogja,” lanjutku. Aku pun segera duduk. Aku tidak terlalu mempermasalahkan status jomblo ku, tapi bukan berarti aku tidak malu menjadi bahan tertawaan gara-gara itu. Hih. Cowok sialan!

***

Saat pengumuman penerimaan mahasiswa dulu, aku iseng mencari-cari nama yang aku kenal yang masuk di jurusan yang sama denganku. Ada beberapa nama yang aku kenal dari SMP dan hanya satu nama dari SMA ku selain aku.
Aji Purnama Putra.
Awalnya aku tidak peduli. Waktu SMA pun kami tidak pernah saling bicara. Aku hanya tahu dia cukup populer di sekolah. Tampan, walaupun preman. Jago olahraga, tapi juga jago berkelahi. Sebenarnya aku nggak terlalu tahu sih, aku nggak ngikutin gosip di sekolah dulu. Yang aku nggak habis pikir, dia tetap menjadi kesayangan guru. Mungkin dia juga nggak bodoh.
Suatu hari saat ospek masih berlangsung, salah seorang anggota kelompokku, Vani, jatuh pingsan ketika jam baris berbaris. Kebetulan aku sedang berada di belakangnya sehingga aku yang menjadi sandarannya ketika terjatuh. Bersama kakak angkatan, aku ikut menemaninya ke ruang kesehatan.
Setelah memberikan keterangan bahwa sebelumnya Vani mengeluh pusing tapi tidak mau melapor, aku pun kembali ke lapangan. Ternyata jam baris berbaris telah usai dan mahasiswa-mahasiswa kembali ke aula di lantai tiga. Ada beberapa jalan untuk menuju aula lantai 3. Lewat tangga di yang berada di bagian barat gedung utama, tangga di tengah-tengah atrium, dan tangga di bagian timur gedung utama. Aku memilih melalui tangga di bagian timur karena tangga tersebut yang jarang dilalui orang. Dengan atribut ospek yang konyol, aku nggak mau terlihat wara-wiri sendirian.
Untuk menuju tangga di bagian timur gedung, aku harus melewati lorong yang bersebelahan dengan gudang. Di depan gudang yang terkunci rapat, terdapat tumpukan kursi dan meja yang sudah tidak terpakai lagi. Saat aku mencapai tengah tangga, terlihat dari atas di salah satu pojok, tersembunyi di balik tumpukan kursi, seseorang sedang duduk selonjoran dengan atribut yang sama denganku.
“Psssst!”, bisikku memanggilnya.
Kepala yang tadinya menunduk, seketika mendongak ke arahku. Wajah kecoklatan dengan rahang yang tampak kuat itu langsung aku kenali.
 “Ngapain kamu di situ?!”, bisikku.
Wajahnya yang tadinya terkejut menjadi tenang. “Oh, kamu.”
Aku mengerutkan kening sambil menatapnya tidak percaya. Bisa-bisanya dia bolos ospek??
“Aku lagi baca komik. Mau ikutan?”
What?!
“Yang bener aja, kita lagi ospek!”, ujarku sambil tetap berbisik, takut jika ada kakak angatan yang mendengar. “Kamu mau dihukum? Kalau dihukum, kamu nggak dapet sertifikat ospek. Kalau nggak dapet sertifikat ospek, kamu nggak bisa lulus!”
“Ck. Bawel,” ucapnya sambil kembali menundukkan kepalanya.
Kenapa sih, cowok ini?
“Pssst!!”, bisikku lagi, memanggilnya.
“Kamu nggak mau malu-maluin nama SMA kita kan?? Ayo ke aula!”, ajakku mulai panik.
Dia tidak lagi mendongak. Dia malah melanjutkan bacaannya seolah-olah aku sudah pergi.
Tiba-tiba saja, tanganku terasa bergerak sendiri. Aku melepaskan kalung papan nama dari kardus dan  melemparkannya.
Papan namaku mendarat tepat di kepalanya. Aji terkejut dan dia pun langsung berdiri. Aku sendiri terkejut kenapa aku melakukannya. Mungkin karena panas. Atau lelah. Atau frustrasi dengan tugas-tugas ospek yang nggak masuk akal. Atau hanya kesal karena aku dibilang bawel.
“HEH!!” bentaknya tiba-tiba.
Aku terkejut karena mendengar suaranya yang lantang. Sebelum aku sempat berkata-kata, terdengar suara dari ujung lorong.
“Siapa itu?”
Seorang kakak angkatan berjalan menuju kami. Kuperhatikan badge di dadanya. Roni. Komisi Disiplin.
Yak. Mampus.
“Kenapa kalian nggak di aula?” ucapnya dengan suara dingin.
Dia menatapku dan Aji bergantian. Aji masih melotot, tapi tidak mengatakan apa-apa.
“A, anu kak,” ucapku terbata. “Tadi saya nganterin Vani ke ruang kesehatan, terus mau balik ke aula.”
Dia melipat tangannya. Tatapannya beralih ke Aji.
“Kamu. Ngapain di situ?”
Aji membuka mulutnya, tapi aku menyelanya.
“Aji tadi ngambilin papan namaku yang jatuh, Kak. Nggak sengaja tadi jatuh ke situ,” ujarku cepat-cepat.
Aji melirikku. Dia masih terdiam.
Kakak angkatan, yang sebenarnya ganteng walaupun serem itu, tetap menatap kami dengan curiga.
“Kenapa papan nama yang kamu kalungin bisa jatuh?”
“Mm..karena tadi saya lepas untuk...mm..untuk ngipasin Vani kak, yang tadi pingsan”, kataku terbata.
“Ya sudah. Segera masuk aula. Sekarang.”
Aku masih terpaku di tempat. Aku tidak percaya bahwa aku lolos semudah itu. Beneran nih? Boleh lari ke aula sekalian?
“Ayo!!”, gertaknya.
Aji dengan perlahan keluar dari tempat persembunyiannya dan menyusulku. Kami saling lirik dan melanjutkan berjalan ke aula beriringan, mas-mas  KomDis tersebut di belakang kami.
“Nih”, kata Aji sambil mengembalikan papan namaku.
“Maaf ya,” bisikku.
“...”
"Eh, tunggu. Kenapa aku harus minta maaf? Kan kamu yang ngatain aku bawel!"
"..."
“Duh, nggak enak udah bohong...”
"..."
"Untung kita nggak dihukum..."
"..."
“Nggak akan ketahuan kan ya?"
“Ck! Bawel!”
Seketika aku menoleh untuk protes. Tak aku sangka, cowok berparas tampan itu malah cengengesan. Ih! Apaan sih!

***

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mencoba nge-post cerita biar ada desakan untuk dilanjutkan. Mari kita lihat, apakah ini berhasil aku tamatkan atau tidak.
Hahaha.
Kepanjangankah? Kurang deksriptif kah?
Mohon komentarnya ya :D

Cinta-cintaan (1)

by on June 04, 2014
“Perkenalkan, nama saya Renata, biasa dipanggil Re, dan saya- ” “Jomblo!” Tawa berderai dari segala penjuru kelas. Kepala yang menole...
2009

Seharusnya aku tetap menjadi anak yang baik, seperti yang orang-orang pikirkan.
Seharusnya aku tetap menjadi anak yang baik, seperti yang aku tunjukkan ke orang-orang.

Seharusnya aku tenang.

Aku memang tenang. Bicaraku tenang. Langkahku tenang. Wajahku sangat tenang. Tapi hatiku tidak.

Jantungku berdegup kencang. Aku mempertimbangkan. Apa aku takut? Apa aku terlalu bersemangat?

Matamu seperti menyetujui apa yang akan aku lakukan. Haha. Mungkin aku berdelusi. Mana mungkin aku berani menatap matamu. Apa yang aku lakukan, aku yakin kamu pun tidak mungkin peduli.

Apapun itu, kehadiranmu cukup menenangkanku.

Tenang. Kan ada kamu. Kamu ahlinya.

Baiklah. Ajari aku.
Apa kita harus bersulang?

Some Night

by on June 03, 2014
2009 Seharusnya aku tetap menjadi anak yang baik, seperti yang orang-orang pikirkan. Seharusnya aku tetap menjadi anak yang baik, se...