Halo, Teman!

11:10 PM

Apa yang kamu lakukan ketika kamu sedang jengkel kepada temanmu? Melabraknya? Ngajak dia ketemuan terus curhat? Atau ngepost kegalauan kamu di sosial media?

Hahaha.

Hubungan manusia itu menarik. Secara sadar dan tidak, kita bisa memilih mana orang yang ingin kita ajak ngobrol sampai malam di cafe atau mana orang yang kalau dia mention di Twitter nggak kamu balas. Nggak ada yang namanya keadilan di hubungan sosial manusia. Selalu ada yang diprioritaskan, karena ya, suka-suka yang punya perasaan.

Saya agak kesulitan ketika ditanya siapa teman terdekat saya. Mungkin saya akan menyebutkan beberapa nama, tapi saya pasti akan mengutarakan beberapa detail yang mungkin jatuhnya dikira saya curhat. 

Seseorang yang saya anggap dekat pernah menuliskan hal yang mengejutkan tentang saya. Mengejutkan karena waktu itu saya pikir kok tega dia nulis kayak gitu. Apakah hal itu benar-benar yang dia pikirkan tentang saya atau dia hanya bercanda, saya nggak pernah tahu. Saya terlalu takut untuk mengatakan kegelisahan saya ke dia. Akhirnya saya curhat ke teman dekat saya yang lain. Untuk sementara saya lega. Tapi nggak disangka, bertahun-tahun kemudian, hal ini masih mengganjal di hati saya. 

Kadang saya berpikir, apakah saya yang terlalu memikirkannya dengan serius? Atau ini memang benar-benar masalah yang serius?

Itu hanya salah satu dari pengalaman hubungan personal saya. Yang lain dan sama-sama bermasalah masih ada. Lain kali saya ceritakan.

Pernah bertanya pada diri sendiri. Apa yang salah dari saya? Kenapa saya nggak bisa ajeg menjaga hubungan pertemanan dari dulu? Di SD, SMP, SMA, dan mungkin sampai sekarang, saya mengalami hal tersebut.  Sebagian besar kesalahan ada pada saya, memang. Rasanya ingin mengulang lagi biar nggak ada kerenggangan dengan teman-teman dekat saya di jaman dahulu itu.

Di jaman dahulu itu. Nggak enak ya? Ada ya, yang namanya mantan teman dekat? Tapi gimana lagi, memang kenyataannya sekarang tidak sedekat dulu lagi :(

Teman. Teman dekat. Sahabat. Apa sih itu?

Seseorang yang ada ketika kamu butuhkan? Seseorang yang barengan terus sama kamu sampai kamu terbiasa sama kehadirannya? Seseorang yang merahasiakan curhatanmu? Seseorang yang selalu berhasil bikin kamu ketawa waktu kamu sedang sedih?

Seseorang yang jujur ke kamu kalau dia lagi bete sama kamu? Seseorang yang berkorban demi kepentingan kamu? Seseorang yang terbuka? Seseorang yang nggak njelek-njelekin kamu di belakang?

Seseorang yang tahu buruk-buruknya kamu tapi tetap bisa melihat kebaikanmu yang paling baik?

Apa pun itu, itu keputusanmu untuk berteman dekat dengan seseorang atau tidak. Alasannya bisa beda-beda. Temenan sama A karena dia pengertian, temenan sama B karena dia enak diajak ngobrol, temenan sama C karena dia suka ngebanyol, dan seterusnya. Karena kamu yang berteman dengan A,B, dan C, belum tentu mereka saling berteman dekat juga. Itu nggak bisa kamu paksa, tapi bukan berarti nggak bisa diusahakan.

Jadi.

Apakah kita berteman dekat?

You Might Also Like

4 comments

  1. Aku juga suka berpikir kayak gitu. Tapi njuk aku tidak menemukan titik terang tentang bagaimana/apa teman, teman baik, sahabat. Apapun namanya, kalau mereka baik ya aku akan baik, kalau jahat ya sudah tinggalkan, doakan supaya enggak jahat. Gitu kali ya..

    ReplyDelete
  2. Bisa jadi mereka juga berfikir yang sama. Karena intensitas ketemu sih biasanya, temen sd yang tadinya sering ketemu, setelah smp sma kuliah akan sibuk dengan urusannya sendiri, dan ketika sekian lama nggak ketemu waktu mau ketemu jadi nggaktau mau mulai ngobrol dari mana. aku pernah denger temenku ngomong gini waktu dia mau ketemu sama temen lamanya "Aduh, dia masih sama nggak ya, kalo udah beda gimana."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi Ken. Kadang kalau ketemu teman lama, sebelumnya nginget-nginget dulu biasanya ngobrolin apa ya. Hehe

      Delete