Tadi Malam

3:12 PM

Akhirnya saya melewatkan satu hari #SelapanNulis. Berarti saya harus nge-post tiga tulisan hari ini. Hhh. Okelah...

Tadi malam, saya mau curang. Karena saya lelah, niatan untuk menulis quote yang nggak mutu sudah terencanakan, tapi kemudian tulisan saya menjadi cukup panjang. Setelah separuh jalan menulis, tiba-tiba...

*pet!*

Lampu mati. Waktu itu saya belum sikat gigi, belum cuci muka, dan belum menunggah tulisan saya, saya memutuskan untuk langsung tidur. Tapi bayangan gigi yang terancam akan sakit dan berlubang dan perasaan tidak nyaman ketika bangun di keesokan harinya karena saya tidur tanpa sikat gigi dan cuci muka, saya memutuskan untuk tetap melakukan ritual malam seperti biasa. Hanya saja ini tidak biasa. Dengan perasaan deg-deg an karena gelap gulita dan tidak ada suara lain selain hujan dan angin, saya mencari-cari senter di dekat majic com, penanak nasi.

Saya punya hubungan yang rumit dengan meja tempat majic com. Pasalnya, majic com adalah benda yang saya temui setiap hari untuk mengambil nasi saat saya mau makan. Meja tersebut juga dekat dengan water dispenser, yang setiap hari saya hampiri lebih dari 5 kali. Jadi, mau nggak mau, saya pasti menghampiri meja tersebut. Yang saya nggak suka adalah...cicak. Sering kali saya menemui cicak di meja tersebut. Mereka mengintai dan mencari jika ada sisa nasi yang jatuh untuk mereka lahap. Bukannya saya nggak suka ngasih makan binatang liar, tapi saya gilo pol sama binatang melata yang satu itu. Hiii. Jadi setiap saya ketemu sama cicak di meja tersebut, saya mengusirnya dengan suara sok garang namun sebenarnya gilo.

Saya sudah malas dan kesal untuk ketemu cicak di setiap saya mau makan. Saya nggak mau sengaja meraba cicak yang mungkin sedang iseng nongkrong di gagang senter. Dengan setengah hati, saya membawa ipad untuk menerangi jalan saya... (terangilah jalan saya selalu, Ya Allah..amiin)

Saya menemukan senter dengan mudah. Nggak pake lama, saya bawa senter ke depan wastafel. Ternyata senternya nggak seterang harapan saya. Saya pun memposisikan senter sedemikian rupa sehingga sinarnya dapat lebih terpencar. Tapi saya gagal. Ya sudah, saya pasrah.

Jadi, saya berdiri di depan wastafel dengan cermin untuk sikat gigi. Sebelumnya, saya tolah-toleh untuk meyakinkan diri bahwa tidak ada makhluk apapun di sekitar saya, karena kadang-kadang saya menemukan tokek di dinding. Saya sudah cukup gilo dengan cicak, apalagi dengan versi yang lebih besar dan lebih berwarna. Hiii. Saya bisa benar-benar tercekat ketika kaget melihat tokek. Itu hanya satu makhluk yang saya lihat kadang-kadang. Belum makhluk yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Misalnya..... 'makhluk'.

Dengan menatap cermin, saya merasa kegiatan membersihkan mulut saya tersebut lebih optimal. Tapi dengan keadaan gelap dan hanya diterangi oleh cahaya senter, bayangan saya di cermin terlihat...creepy. Rambut saya yang nggak tersisir dan kantung mata hitam yang menggantung nampak lebih seram terkena terpaan sinar senter yang nyelorot tapi redup. Saya nggak takut dengan bayangan saya sendiri. Yang saya takutkan adalah bagaimana jika bayangan saya menjadi dua. Atau ada bayangan lain yang tiba-tiba muncul setelah sekian detik saya berpaling dari cermin.

Parno? Iya.

Sebenarnya saya belum pernah melihat penampakan, apapun bentuknya. Tapi yang tidak bisa kita lihat belum tentu tidak ada kan? Lagipula saya memang percaya bahwa hal-hal ghaib memang ada di sekitar saya. Beberapa orang yang saya kenal pun ada yang bisa melihat hal-al tersebut. Bagaimana kalau saya yang nggak pernah melihat tahu-tahu bisa melihat? Akankah saya kaget? Akankah saya takut? Atau saya sebenarnya bisa melihat tapi saya nggak mau melihat jadinya mereka nggak kelihatan?

Hahaha. Kayaknya saya sering banget menuliskan pertanyaan beruntut di setipa tulisan saya di sini.

Anyway.

Setelah gosok gigi dan cuci muka, saya kembali ke kamar saya.
Lalu tiba-tiba, listrik kembali menyala.

Cepat-cepat saya nyalakan netbook, berniat untuk kembali menuliskan apa yang tadi sempat terpotong. Sialnya, Speedy nggak mau nyambung. Entah kenapa. Ya sudah. Saya pasrah.

So, here I am, writing my first post for mbayar utang tulisan.



Next!

You Might Also Like

0 comments